Daulah Umawiyyah

Sebab-Sebab Runtuhnya Daulah Umawiyyah [Bag.Kedua]

Namun mengapa Daulah Umawiyyah tetap runtuh dan hilang kejayaan mereka?

Jawabnya adalah: bahwa keberadaan kebaikan dan jasa-jasa tidak bermakna bila tidak adanya kejelekan dan aib. Bani Umayyah memiliki aib dan kesalahan yang cukup untuk menyebabkan daulah mereka runtuh dan kekuasaan mereka hilang bersama perjalanan waktu dan tahun. Juga merupakan sunnatullah (aturan dari Allah dan takdir yang telah dipastikan bahwa Dia ‘azza wa jalla tidak akan mengubah segala apa yang ada pada suatu kaum, baik berupa kebaikan maupun kejelekan, sampai diri-diri mereka terlebih dahulu yang merubah. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ra’d: 11)

Yang dimungkinkan aib dan kesalahan itu adalah sebagai berikut:
1. Kezhaliman yang kadang terjadi baik dari khalifah Bani Umayyah sendiri atau dari gubernur-gubernur yang ditunjuk terhadap kaum muslimin. Kemudian mereka menutup mata dari kezhaliman yang terjadi, entah untuk maslahat agama atau sekedar maslahat duniawi. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada diri Al-Husain radhiyallahu ‘anhu berupa kezhaliman dari Ibnu Ziyad, juga kezhaliman Al-Hajjaj terhadap sejumlah besar muslimin. Sedangkan kita mengetahui bahwa doa orang yang terzhalimi adalah tidak ada penghalang antara pengabulan doa dengan Allah.

2. Perlakuan yang melampaui batas dalam memadamkan sebagian fitnah dan terus menerus melakukan pembunuhan dan hukuman, padahal ada sisi kebenaran atau ijtihad pada mereka yang melakukan perlawanan. Yang demikian ini menyebabkan munculnya kebencian dan kedengkian terhadap daulah baik dari mereka maupun dari yang lainnya. Walaupun kekejaman itu kadang muncul dari perbuatan komandan atau seorang gubernur, sedangkan khalifah sendiri tidak menyetujuinya sebagaimana yang terjadi pada fitnah Al-Husain , fitnah penduduk Madinah, dan pembunuhan terhadap Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu.

3. Perubahan mencolok yang dirasakan oleh kaum muslimin yang ada pada sistem pemerintahan Daulah Bani Umayyah dari sistem pemerintahan Al-Khulafaa’ ArRasyiduun. Pada masa Al-Khulafaa Ar Rasyiduun yang dijalankan adalah sistem Asy Syuura[1] dan kedekatan mereka dengan rakyat, penjagaan baitul maal (kas) muslimin, pemilihan orang-orang yang cakap untuk menjabat sebagai khalifah dan pemerintah daerah. Ini semua adalah perkara yang menonjol dan diterima pada masa keemasan mereka. Perubahan dari yang demikian menyebabkan rasa benci dan ragu pada kebanyakan manusia yang kemudian dimanfaatkan oleh musuh-musuh negara untuk mengadakan pengobaran fitnah dan peperangan, serta peruntuhan daulah.

4. Perselisihan yang sengit, peperangan, dan saling membunuh di antara keturunan Bani Umayyah sendiri pada akhir masa kekuasaan mereka. Juga tercerainya soko guru/tiang yang mereka bersandar kepadanya, yaitu penduduk Syam, yang mereka terbagi menjadi beberapa kelompok dan golongan, ditambah lagi perseteruan antar Bani Umayyah sendiri. Mereka saling mengalirkan darah lawannya, hati mereka telah berubah. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan Al-Walid bin Yazid dan Marwan bin Muhammad, dan selainnya. Sehingga terpecahlah mereka dan hilanglah kekuatannya. Kemudian Bani Al ‘Abbas yang mewarisi daulah dan kejayaannya. Hal ini sebagaimana Allah ta’ala, firmankan:
“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang akan menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfaal:46)

5. Banyak musuh yang harus dihadapi oleh Daulah Umawiyyah, baik musuh itu dalam kebenaran atau kebatilan. Seperti kaum Rafidhah yang amat dengki terhadap Bani Umayyah sejak mereka berperang membela `Ali bin Abi Thalib yang kedengkian itu semakin membara karena mereka harus berperang melawannya. Juga Khawarij Yang melakukan serangkaian huru hara yang bertubi-tubi melawan Daulah Umawiyyah sehingga darah mereka pun tercurah dan kedengkian mereka semakin membara. Diantara musuh mereka yang lain adalah kalangan zanaadiqah (orang-orang zindiq), kaum atheis, Majusi, Yahudi, dan Nasrani yang memancing di air keruh. Mereka mengobarkan api fitnah dan menjadikannya sebagai perang terhadap daulah Islam, penaklukan, dan jihad. Allah berfirman:

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran) seandainya mereka sanggup. “(QS. Al Baqarah: 217)

6. Bani Umayyah menyepelekan gerakan Bani Al ‘Abbas serta sikap terpedaya, bangga, dan lengah karena kekuatan pasukan yang mereka miliki hingga gerakan ini menjadi besar. Marwan bin Muhammad telah menulis surat untuk Nashr bin Sayyaar ketika ia memperingatkan Marwan dari kekuatan gerakan ini: “Seorang yang langsung menyaksikan melihat apa yang tidak disaksikan oleh orang yang tidak menghadapinya langsung, oleh karena itu potonglah, si Tsu’lul/tompel. ” Maka Marwan menyebutnya dengan Tsu’lul sebagai bentuk peremehan kepada gerakan Bani Al ‘Abbas. Kemudian Allah ‘azza wa jalla menakdirkan sesuai dengan kehendak-Nya, sehingga kehancuran daulah ini adalah di tangan si Tsu’lul. Maha Suci Allah Yang telah berfirman dengan ayat-Nya berikut:

Katakanlah: Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran:26)

Semua pendorong dan sebab ini telah terkumpul yang pada  tahap berikutnya memudahkan upaya provokasi melawan Daulah Umawiyyah. Provokasi itu pun dengan takdir Allah mendapatkan udara yang cocok untuk bisa berkembang dan menyebar. Seruan perlawanan terhadap Bani Umayyah dimulai di Khurasan pada permulaan abad kedua hijriyyah. Pada awal pergerakannya adalah dengan cara sembunyi-sembunyi, yaitu para da’inya masuk ke Khurasan dengan kedok sebagai pedagang. Kemudian mereka mulai menyebarkan misi mereka dari rumah ke rumah, dari satu desa ke desa lainnya dengan penuh kesigapan dan kehati-hatian. Demikianlah Khurasan menjadi ladang yang subur yang menghasilkan buah bagi seruan itu dan menyebarnya dasar-dasar seruan yang mereka canangkan, sehingga jiwa-jiwa pengikutnya kenyang dan telah dipenuhi kebencian terhadap Bani Umayyah. Dan negeripun telah seperti kayu bakar yang kering dan tertumpuk rapi yang siap dinyalakan.

Seruan/provokasi yang dilakukan oleh Bani Al ‘Abbas berpindah kepada tahap angkat senjata yaitu pada tahun 127 H. Gerakan ini dipimpin oleh seorang yang cerdik dalam melakukan siasat bernama Abu Muslim Al Khurasaani.

Nashr bin Sayyaar, gubernur Khurasan yang ditunjuk oleh Bani Umayyah, mendapati bahayanya api dan permasalahan ini yang membuatnya merasa ngeri. Kemudian dia menulis surat kepada khalifah Bani Umayyah ketika itu, yaitu Marwan bin Muhammad, berisi pemberitahuan tentang keadaan Abu Muslim dan pemberontakan yang ia lakukan serta pengikutnya yang banyak. Juga tentang Abu Muslim yang menjadi corong bagi Bani Al `Abbas. Nashr menutup suratnya dengan bait-bait syair yang terkenal itu:

Aku melihat dari sela-sela gurun dan kobaran api

Hampir-hampir akan mendapati nyalanya yang menjulang tinggi

Sesungguhnya dua kayu bakar telah cukup tuk menyalakan api

Sedangkan perang dari perkataan dimulai

Bila para cendekia tidak segera menangani api

Maka pastilah nyalanya akan menjadi dan sukar diatasi

 Aku mengucapkannya karena saking terheran, duhai apakah Bani Umayyah terjaga ataukah terlelap dalam mimpi

Dan pada kenyataannya Bani Umayyah tidak tersadarkan, akan tetapi mereka dalam keadaan tertidur. Mereka tidak berhati-hati terhadap bahaya yang telah menyala di Khurasan. Ketika itu urusan yang diperani oleh Abu Muslim menjadi besar dan semakin berbahaya. Kota-kota di Khurasan satu demi satu berhasil dia rebut. Kemudian pasukan dari Khurasan melanjutkan perjuangannya menuju ke Iraq dan berhasil menundukkannya. Khalifah pertama dari Bani Al ‘Abbas dibaiat yaitu Abul ‘Abbas yang dijuluki dengan As-Saffah pada tahun 132 H.

Demikianlah akhir dari Daulah Umawiyyah, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kerajaan bagi yang Ia kehendaki dan mencabutnya dari yang Ia kehendaki. Allah jua yang membolak-balikkan malam dan siang.

Bersambung…

Foot Note:

[1] Sistem Asy Syuraa yang ada pada masa khalifah bukan sistem musyawarah rakyat yang dikenal saat ini. Lihat pembahasan pada buku Tarikh Khulafa … pada masa pemerintahan ‘Umar bin Al Khaththab yang pada masanya dibentuklah Asy Syuara yang berjumlah enam orang. Perhatikan dan bedakan dengan sistem musyawarah yang sekarang (demokrasi). Maka akan diketahui perbedaan yang amat jauh antara keduanya. Wallahu a’lam bishshawaab . —pen.

Sumber: Disalin dari buku “TARIKH DAULAH UMAWIYYAH”, Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, Riyadh Saudi Arabia, Penerjemah: Fathul Mujib, Muroja’ah: Ustadz Abu Muhammad ‘Abdul Muthi, Lc Hafizhahullah, Penerbit Hikmah Ahlus Sunnah, Cet.Kedua, Hal.87-88

Artikel: www.kisahislam.net

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

Share:

Leave a reply

Hosted by Bestariwebhost - Web Hosting murah Vps Murah Indonesia