Daulah Umawiyyah

Ahlul Bid’ah Dan Fitnah Yang Mereka Hasung Di Tengah-Tengah Daulah Umawiyah [Bag.Kedua]

Sejarah Islam telah dipenuhi dengan syubhat-syubhat seperti yang telah dijelaskan di artikel sebelumnya, yang disusupkan oleh musuh-musuh Islam. Yang menjadi fokus kita pada pembahasan ini adalah fitnah yang mereka lancarkan pada masa pemerintahan Daulah Umawiyyah, atau gerakan-gerakan politik yang digunakan untuk menyerangnya atau dijadikan sebagai peluang emas, diantaranya adalah:

1) Terbunuhnya Hujr bin ‘Adi radhiyallahu ‘anhu :

Peristiwa ini adalah sebuah peristiwa yang telah mereka siapkan dan mereka arahkan dengan berbagai hasutan dan provokasi untuk menentang Mu’awiyah. Kemudian mereka menjadikannya sebagai bahan pokok untuk mencela Mu’awiyah Sejumlah kedustaan bahwa pemerintah Kufah yang ditunjuk oleh Mu’awiyah melaknat ‘Ali di atas mimbar. Hal inilah yang menjadi titik api pergolakan Rafidhah, dan bahwasanya Hujr bin ‘Adi radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpinnya, dan kedustaan-kedustaan lainnya.

Sedangkan hakekat yang terjadi adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dengan sanad yang diterima secara ilmu tarikh dari Muhammad bin Sirin bahwa Ziyad bin Abiihi, gubernur Kufah, berkhutbah pada hari Jum’at, dan khutbah yang disampaikannya amat panjang sehingga menjadikan shalat Jum’at terlambat. Kemudian Hujr bin ‘Adi mengatakan kepadanya: “(Sudah waktunya) shalat!” Akan tetapi dia tetap melanjutkan khutbahnya. Lalu Hujr mengatakan lagi: “Sudah saatnya shalat!” Akan tetapi Ziyad tetap melanjutkan khutbahnya.

Ketika Hujr menghawatirkan waktu shalat akan habis maka beliau memukulkan pasir ke telapak tangannya dan bergerak untuk mendirikan shalat dan orang-orang yang hadir mengikutinya. Ketika Ziyad menyaksikan hal itu, dia pun turun dari mimbar dan mengimami shalat. Ketika telah selesai mengerjakan shalat, Ziyad menulis kepada Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu dan memperbanyak permasalahan serta membesar-besarkan bahayanya. Lebih-lebih Hujr radhiyallahu ‘anhu adalah pengikut/murid ‘Ali radhiyallahu ‘anhu yang paling senior dan banyak orang yang bisa terpengaruh olehnya. Ketika surat telah sampai kepada Mu’awiyah yang tampak dalam pandangannya adalah ia harus menghentikan fitnah yang terjadi yang hampir berkobar dan dijadikan sebagai peluang emas oleh para pendengki dan musuh-musuh Islam dari kaum Sabaiyyah dan selainnya. Mereka berusaha mengail di tengah-tengah kaum muslimin sebagaimana fitnah yang terdahulu berhasil mereka manfaatkan.

Kemudian Mu’awiyah sangat marah, lalu Hujr dan kawan-kawannya dipanggil. Beliau tergesa-gesa mengambil keputusan dengan memerintahkan untuk dibunuh di luar Damaskus agar api fitnah padam dan mengubur fitnah pada tempatnya. Kemudian setelah beliau berpikir dan sikap kehati­-hatiannya lebih mendominasi, beliau mengeluarkan pernyataan berupa sikap memaafkan mereka atau memenjarakannya. Utusan diperintahkan untuk memberitahukan pasukan tentang hal ini, akan tetapi urusan Allah telah terjadi. Utusan itu terlambat datang, yang pada akhirnya Mu’awiyah menyesali dengan penyesalan yang dalam. Beliau senantiasa mengulangi perkataannya: “Hariku (hari hisabku) terhadapmu adalah sangat panjang, wahai Hujr. “

Para pendengki dan Rafidhah menjadikan peristiwa ini sebagai bahan untuk menyulut api fitnah yang lain.

2) Mereka mengeluarkan AI-Husain radhiyallahu ‘anhu dari Makkah dan menghianatinya, serta terbunuhnya Al-Husain radhiyallahu ‘anhu

Sebagai buah dari makar para pengacau dengan terbunuhnya Hujr bin ‘Adi radhiyallahu ‘anhu, lalu mereka melanjutkan langkah dengan mengobarkan fitnah berupa perlawanan terhadap Yazid bin Mu’awiyah rahimahullah. Langkah ini dimulai ketika mereka meminta Al-Husain datang kepada mereka untuk kemudian membaiatnya, kemudian setelah itu memberontak kepada daulah/kerajaan di bawah pimpinannya. Ketika Al-Husain memenuhinya, mereka menipu dan menyingkir dari beliau sehingga beliau terbunuh sebagaimana telah lalu pada pembahasan masa pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah.

Diantara fitnah yang mereka lancarkan adalah peristiwa yang terjadi di Iraq dengan kedok orang-orang yang bertaubat. Peristiwa ini adalah fitnah yang terjadi di Kufah pada tahun 65 H. Mereka dinamakan dengan gerakan orang-orang yang taubat (at tawwaabun) karena mereka mengaku bertaubat dan menyesal atas apa yang telah mereka perbuat (yaitu membiarkan dan tidak menolong) terhadap Al-Husain radhiyallahu ‘anhu. Lalu mereka saling bersumpah akan mengorbankan harta dan jiwa mereka sampai bisa menghancurkan Daulah Umawiyyah. Mereka memprovokasi manusia (kaum muslimin) dengan tujuan mengadakan pembalasan untuk Al-Husain. Bait-bait syair mereka gubah untuk mengenangnya. Dari ulah para tawwaabun ini kaum muslimin menjumpai berbagai kerusakan dan keadaan yang sangat mengerikan.

Setelah itu mereka menjelma dalam gerakan Al Mukhtar bin Abi `Ubaid Ats-Tsaqafi, seorang yang mengaku sebagai nabi dan sekaligus seorang pendusta di Iraq. Fitnah ini dilancarkan di bawah slogan menuntut balas terhadap para pelaku yang terkait dalam pembunuhan Al-Husain. Sejumlah besar kelompok sesat bergabung dalam gerakan ini. Sebagian target dari pergolakan ini berhasil dicapai. Sejumlah besar dari kalangan yang tersangkut dengan kasus penyerangan terhadap Al-Husain bin `Ali berhasil dibunuh, terutama ‘Ubaidullah bin Ziyad dan ‘Umar bin Sa’d bin Abi Waqqash. Namun target utama dari huru hara ini yang disembunyikan oleh Al Mukhtar si Sabi’ (dari orang-orang Sabaiyyah-pen) tidak berhasil dicapai, yaitu merebut kekuasaan kaum muslimin dan mengangkat dirinya sebagai penguasa. Fitnah ini berakhir dengan tewasnya Al Mukhtar pada tahun 67 H di tangan Mush’ab bin Az-Zubair rahimahullah. Segala puji bagi Allah ‘Azza wa Jalla.

(Setelah fitnah ini berhasil dipadamkan) mereka mengobarkan fitnah baru di bawah kedok pembelaan terhadap Zaid bin ‘Ali Zainal `Abidiin bin Al-Husain bin ‘Ali rahimahullah pada tahun 121 H. Fitnah ini terjadi di Iraq dibarengi dengan perang yang sengit dan kengerian yang dahsyat dan berakhir dengan meninggalnya Zaid. Sedangkan anaknya yang bernama Yahya lari ke Khurasan dan diikuti sejumlah besar orang, namun akhir dari urusan yang beliau hadapi adalah sama dengan yang dialami oleh ayahnya (yaitu terbunuh).

Pengaruh/bekas yang tertinggal dari fitnah ini setelah para pelakunya tewas tidak berhenti sampai di sini saja, akan tetapi berubah dalam baju baru yang akan menyebabkan munculnya sejumlah fitnah dan kesialan bagi kaum muslimin di setiap zaman.

Bersambung Insyaallah..

Sumber: Disalin dari buku “TARIKH DAULAH UMAWIYYAH”, Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, Riyadh Saudi Arabia, Penerjemah: Fathul Mujib, Muroja’ah: Ustadz Abu Muhammad ‘Abdul Muthi, Lc Hafizhahullah, Penerbit Hikmah Ahlus Sunnah, Cet.Kedua, Hal.87-88

Artikel: www.kisahislam.net

Share:

Leave a reply

Hosted by Bestariwebhost - Web Hosting murah Vps Murah Indonesia