Wawasan

Pembangunan Masjid Nabawi dan Sejarahnya Sepanjang Masa [01]

1. PADA MASA KENABIAN

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah dan singgah di perkampungan bani’ Amru bin’ Auf, menetap di sana selama 14 hari, dan beliau selalu melaksanakan shalat bila waktunya tiba, kemudian beliau memerintahkan para sahabatnya untuk membangun masjid dan mengirim utusan kepada bani Najjar.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hai bani Najjar tentukan harga kebun kalian ini. ” Mereka menjawab: “Tidak! Demi Allah, kami tidak akan menjualnya kecuali kepada Allah ”

Anas berkata: “Di kawasan itu ada pohon kurma, kuburan orang musyrik dan bangunan yang mulai runtuh, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammemerintahkan untuk menebang pohon kurma yang ada, memindahkan kuburan orang musyrik dan meratakan bangunan tersebut. Lalu mereka membelah pohon kurma tersebut dan disusun sebagai arah kiblat, kedua sisinya disusun batu, mereka bersenandung dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut bersama mereka, mereka mengucapkan:

Ya, Allah! Tidak ada kebajikan kecuali kebajikan akhirat

Maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin!

Salamah bin Al-Akwa’ berkata, “Dinding masjid bagian dekat mimbar hampir dapat dilangkahi oleh kambing. Dan tanah masjid itu sebelumnya milik dua orang anak yatim yang berada dalam asuhan As’ad bin Zurarah biasa mengirik kurmanya di tempat itu.

‘Aisyah radiallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki untanya, berjalan diiringi oleh kaum muslimin hingga untanya menderum di tempat masjidnya di Madinah. Beliau dan kaum muslimin yang bersama beliau shalat di sana pada hari itu. Tempat itu merupakan tempat Suhail dan Sahal (dua orang anak yatim dalam asuhan As’ad bin Zurarah mengirik kurmanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sewaktu untanya menderum di tempat tersebut: “Ini insya Allah tempat berdiamnya kita.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil dua anak tersebut dan menawar harga tanah tersebut untuk dibangun masjid di atasnya, mereka menjawab: “Tidak tetapi kami memberikannya untukmu, wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam enggan menerima pemberian mereka hingga akhimya beliau membeli tanah tersebut dari mereka, kemudian dibangun masjid. Diriwayat Bukhari no.3906, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut mengangkat batu membangun masjid tersebut bersama para sahabat, beliau bersenandung:

Nafi’ berkata, “Abdullah bin Umar bercerita kepadanya: “Sesungguhnya masjid di masa Nabi dibangun dengan bata, atapnya dari batang kurma dan tiangnya dari pohon kurma”. [H.R.Bukhari. no.446]

PERLUASAN PERTAMA

Perluasan pertama masjid Nabawi yaitu: di saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali dari perang Khaibar, disebabkan bertambahnya jumlah kaum muslimin. Lebarnya ditambah 40 hasta dan panjangnya ditambah 30 hasta, sehingga luas masjid Nabawi menjadi 2.500 meter persegi. Sisi kiblat tetap pada posisi semula, pondasi terbuat dari batu, dindingnya terbuat dari bata, tiangnya terbuat dari batang kurma dan tinggi atapnya 7 hasta. dan Utsman bin Affan yang membeli tanah untuk perluasan masjid Nabawi tersebut.

PADA MASA ABU BAKAR

Abu Bakar disibukkan dengan memerangi orang-orang murtad, sehingga beliau tidak mempunyai cukup waktu untuk mengadakan perluasan masjid Nabawi. Akan tetapi tiang masjid yang dibangun oleh Nabi dari batang kurma mulai lapuk, maka pada masa Abu Bakar, ia menggantinya.

PADA MASA UMAR

Pada masa khalifah Umar bin Khattab jumlah kaum muslimin semakin bertambah, maka ada yang berkata: “Wahai Amirul mukminin! Alangkah indahnya bila masjid Nabawi engkau perluas.” Lalu ia berkata, “Kalau bukan karena aku mendengar Nabi bersabda kepadaku, “Kita perluas masjid kita,” niscaya aku tidak akan memperluasnya, lalu ia memulai perluasan masjid dan memakmurkannya pada tahun ke: 17 hijriyah. Ia membangun pondasi dari batu dan menaikkan dindingnya sampai setinggi tegak.

Abdullah bin Umar berkata: masjid Nabawi pada masa Rasulullah dibangun dari bata dan batang kurma. (Mujahid berkata: “tiangnya”) dari batang kurma. Abu Bakar tidak menambahnya sedikitpun juga. Umar memperluasnya dan dibangun dengan material seperti masa Rasulullah dengan bata dan batang kurma serta tiangnya dari pohon kurma.[H.R.Ahmad jilid II hal.130 dan Abu Daud no.451]

Ketika Umar memperluas masjid Nabawi, ia membuat halaman masjid yang dikenal dengan “buthaiha’” dan halaman ini masuk dalam kawasan masjid disaat terjadi perluasan setelah Umar. la berkata tentang halaman tersebut: “Siapa yang ingin berbicara yang tak bermanfaat atau mengangkat suara dan melantunkan bait-bait syair, hendaklah melakukannya di tempat ini.” Maksud Umar membangun halaman tersebut untuk menghindarkan masjid Nabawi dari orang yang mengangkat suara, karena termasuk adab di masjid Nabi adalah tidak mengangkat suara di dalamnya.

PADA MASA UTSMAN

Khalifah Utsman bin Affan melakukan perluasan masjid Nabawi dan memugamya pada tahun 29 hijriyah. Beliau memperluas ke arah kiblat, Utara dan Barat. Dan di arah kiblat beliau membangun serambi muka, dan dinding di sisi kiblat adalah tempat dindingnya saat ini. Dan ini adalah perluasan terakhir di sisi ini hingga sekarang, di sisi Barat ditambah dengan membangun serambi dan di sisi Utara ditambah 10 hasta. Bangunan Ustman ini sudah menggunakan batu ukiran dan batu kapur, dan diatapi dengan kayu jati, dan beliau membangun ruangan khusus dari bata.

Al-Mutthalib bin Abdullah bin Hanthab berkata tentang pembangunan masjid Nabawi oleh Utsman “Tatkala Utsman bin Affan dilantik pada tahun ke-24 Hijriyah, orang-orang mengusulkan kepadanya [Usulan ini pada tahun 24 H dan pembangunan baru dimulai pada tahun 29 H] untuk memperluas masjid, mereka mengeluhkan sempitnya masjid di hari jum’at, terpaksa sebagian mereka shalat di halaman masjid, lalu Utsman bermusyawarah dengan para sahabat Rasulullah yang biasa dimintai pendapat, mereka sepakat untuk memugarnya dan memperluasnya. Lalu diwaktu Zhuhur ia mengimami shalat kemudian naik ke mimbar, setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya kemudian berkata, “Wahai manusia! Aku berkeinginan memugar masjid Rasulullah dan membangun kembali yang lebih luas, dan aku bersaksi bahwa aku mendengar Rasulullah bersabda :

“Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka akan dibuatkan untuknya istana di surga. ”

Dan para pendahuluku telah melakukan hal tersebut, yaitu imam sebelumku dan mendahuluiku, Umar bin Al-Khattab ia telah memperluas dan membangunnya, dan aku telah bermusyawarah dengan para ahli syura dari sahabat Rasulullah mereka semuanya sepakat agar masjid dipugar dan dibangun kembali serta diperluas.”

Lalu orang-orang menyambut baik keinginan tersebut dan mereka mendo’akan khalifah. Keesokan harinya ia memanggil para pekerja dan ia pun ikut bekerja, (ia adalah seorang laki-laki yang berpuasa sepanjang masa dan selalu shalat tahajjud, dan selalu menetap di masjid), lalu ia memerintahkan untuk membuat saringan kemudian menyaring batu tersebut.

Pembangunan ini dimulai pada bulan Rabi’ul Awwal, tahun 29 H, dan selesai pada awal bulan Muharram masuk tahun 30 H. Jadi lamanya pembangunan 10 bulan. [Wafa’ al-wafa’ jilid 2 hal. 502]

Bersambung Insyaallah..

Sumber: Sejarah Madinah Al Munawwarah, Disusun oleh Beberapa Ulama yang diketua oleh Syeikh Shafiyur Rahman Al Mubarak Furi , Penerbit : Darussalam, Riyadh, Alih bahasa : Erwandi Tarmizi, Lc.

Share:

Leave a reply

Hosted by Bestariwebhost - Web Hosting murah Vps Murah Indonesia