Kisah Cinta & Keluarga

Kisah Cinta Paling Menakjubkan dalam Sejarah

Kisah Cinta Paling Menakjubkan dalam Sejarah

“Sungguh, aku telah dikaruniai cintanya.” Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam

 

Ini adalah kisah cinta paling menakjubkan dalam sejarah peradaban manusia. Kisah ini bukan kisah cinta antara Qais dengan Laila, dan bukan pula kisah asmara antara Romeo dengan Juliet. Karena kisah mereka tidak berakhir dengan pernikahan, yang merupakan ujian sesungguhnya bagi cinta. Cinta sejati adalah cinta yang terus bersemi setelah menikah hingga salah satu dari mereka dijemput oleh kematian.

Maka kisah cinta yang paling agung dan paling menakjubkan sepanjang sejarah adalah cinta Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam kepada Ibunda Khadijah radhiallahu’anha. Kisah beliau adalah kisah cinta sejati, bahkan hingga istri yang dicintainya meninggal dunia.

Di dalam bukunya, Al-Jazâ’min Jinsi Al-‘Amal (2/59-62), Al-Affani meyebutkan bahwa Ibunda Khadijah radhiallahu’anha adalah penghulu seluruh wanita pada zamannya, ibunda dari Al-Qasim dan semua anak-anak Nabi. Dialah orang yang pertama mengimani dan membenarkan kenabian suaminya sebelum siapa pun. Ia pula yang meneguhkan pendirian beliau, dan pergi membawa beliau menemui pamannya, serta menyokong dakwah beliau dengan hartanya.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memuliakan dan mengutamakan  Ibunda Khadijah dari seluruh istri-istri beliau, sehingga Aisyah radhiallahu’anha berkata, “Aku tidak pernah cemburu sebagaimana kecemburuanku terhadap Khadijah; karena Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sering sekali menyebut-nyebut namanya.”

Di antara kemuliaan Khadijah bagi Nabi shallallahu’alaihi wa sallam adalah bahwa beliau belum pernah menikah dengan wanita lain sebelumnya dan dari rahimnyalah terlahir anak-anak. Beliau juga tidak menikah dengan wanita lain sampai istrinya meninggal dunia. Ketika itulah beliau merasa berduka dan kehilangan, karena Ibunda Khadijah adalah sebaik-baik istri.

Al-Mubarakfuri juga mengomentari kedudukan Khadijah di sisi Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam buku tarikhnya, Ar-Rahiqul  Makhtum (hal. 224), “Sosok Khadijah merupakan nikmat Allah yang paling agung bagi Rasulullah. Selama seperempat abad hidup bersamanya, dia senantiasa  menghibur saat beliau cemas, memberikan dorongan di saat-saat paling kritis, menyokong penyampaian risalahnya, ikut serta bersama beliau dalam rintangan yang menghadang jihad, dan selalu membela beliau, baik dengan jiwa maupun hartanya.”

Untuk mengenang jasa-jasa istrinya, Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam bertutur, “Allah ‘Azza wa Jalla tidak memberikan ganti kepadaku yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku saat manusia tidak ada yang beriman, dia membenarkanku saat manusia mendustakan, dia mengeluarkan hartanya untukku saat manusia tidak mau memberikannya. Allah mengaruniaiku anak darinya, sementara tidak dikaruniakan kepadaku selain darinya.” (Musnad Ahmad, nomor 24864).

Maka, tidak berlebihan jika beliau betul-betul mencintai istrinya ini, sepanjang hidupnya, dan juga setelah kematiannya.

Berikut ini adalah bukti cinta Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepada Ibunda Khadijah. Hingga ketika meninggap dunia pun, beliau tetap mengenangnya dan memuji-mujinya, serta memuliakan teman-teman dan juga saudarinya.

Di dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ibunda Aisyah radhiallahu’anha berkata, “Aku tidak pernah cemburu terhadap seorang pun dari isti-istri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sebagaimana kecemburuanku terhadap Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya, tetapi Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berulang kali menyebut-nyebut namanya. Terkadang beliau menyembelih seekor kambing, lalu memotong-motong daging-dagingnya, lalu beliau mengirimkannya kepada teman-teman Khadijah. Aku pernah berkata kepada beliau, “Seolah-olah di dunia ini tidak ada wanita lain selain Khadijah.”

Beliau kemudian bersabda, “Memang begitulah keutamaan dan kemuliaan Khadijah. Darinya lah aku mendapatkan anak.” (HR. Al-Bukhari, nomor 3818)

Pun, beliau juga menghormati saudari Khadijah, Halah binti Khuwailid. Aisyah menceritakan bahwa suatu ketika Halah binti Khuwailid datang untuk meminta izin bertemu dengan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Tiba-tiba beliau teringat dengan permintaan izin yang dilakukan oleh istrinya, Khadijah, sehingga beliau menjadi senang dengan kedatangannya. Beliau bersabda, “Ya Allah, jadikanlah Khadijah bercahaya.” Aisyah pun cemburu, dan mengatakan, “Engkau masih ingat dengan wanita Quraisy yang sudah tua renta dan sudah lama meninggal dunia. Sungguh, Allah telah memberikan ganti kepadamu dengan wanita yang lebih baik darinya.” (HR. Al-Bukhari, nomor 3821).

Dalam redaksi yang lain, Aisyah menceritakan, “Aku tidak pernah cemburu terhadap seorang wanita sebagaimana kecemburuanku terhadap Khadijah, yang sudah meninggal sebelum Nabi menikahiku tiga tahun setelahnya. Karena aku sering mendengar beliau memuji-muji sebagai pertanda kecintaan beliau kepadanya. Allah juga telah memerintahkan beliau untuk memberikan kabar gembira kepadanya dengan sebuah rumah di surga. Jika menyembelih seekor kambing, beliau menghadiahkannya kepada kerabat, kenalan dan teman-teman Khadijah.” (HR. Al-Bukhari, nomor 6004 dan Muslim, nomor 2435).

Aisyah juga pernah memberikan kesaksian, “Aku tidak pernah cemburu terhadap istri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kecuali terhadap Khadijah padahal aku belum pernah bertemu dengannya.” Lanjut Aisyah, “Jika Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyembelih seekor kambing, beliau akan berkata,” Tolong kirimkan kambing ini kepada teman-teman Khadijah.” Pernah suatu hari aku membuat beliau marah dengan mengatakan, “Khadijah?” lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Inni qad ruziqtu hubbaha…, Sungguh, aku telah dikaruniai cintanya.” (HR. Muslim, nomor 2435)

Demikianlah cinta beliau shallallahu’alaihi wa sallam.

Beliau bahkan, kata Ahmad Salim Baduwailan, sama sekali tidak pernah melupakan istrinya hingga empat belas tahun setelah wafatnya.

Adakah cinta yang lebih menakjubkan melebihi cinta beliau kepada istrinya tercinta, Ibunda Khadijah radhiallahu’anha?

 

Sumber:

Buku 155 Kisah Langka Para Salaf, penerbit Pustaka Arafah, hlm. 19-22

Share:

Leave a reply

Hosted by Bestariwebhost - Web Hosting murah Vps Murah Indonesia