Kisah Para Ulama & Orang Shalih

Kejernihan Hati Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah

“Ya Allah, ampunilah Mu’tashim!”

Ahmad bin Hanbal rahimahullah

 

Mari sejenak menikmati kisah-kisah generasi salaf yang agung. Sungguh, keteladanan mereka akan menjadi warisan peradaban yang akan dikenang dan diikuti dari satu generasi ke generasi; sebuah warisan yang tidak akan pernah bisa kita dapatkan dari peradaban mana pun di dunia ini. Inilah peradaban yang diwarnai oleh pelakunya dengan keimanan, ketakwaan, keikhlasan, kejujuran, kewaraan, kedermawanan, ketawadhuan, keluhuran akhlak dan budi pekerti yang agung.

DI antara kisah yang menakjubkan dari kisah para salaf adalah kisah yang diteladankan oleh Imam Ahlu s Sunnah wal Jamaah, Ahmad bin Hanbal. Betapa jernih hatinya. Betapa bening nuraninya. Betapa indah kata dandoanya; orang yang menyiksanya justru dimintakan ampunan olehnya. Akhlak seperti apakah ini?

Mari kita menyimak kisah menakjubkan perihal kejernihan hati Imam Ahmad yang diabadikan oleh Ibnu Hibba dalam Raudhatul Uqalâ’ (1/164-165);

Ibnu Hibban menyebutkan bahwa dia pernah mendengar Ishaq bin Ahmad Al-Qatthan Al-Baghdadi bererita di Tustar, “Di Baghdad, kami memiliki seorang tetangga. Kami menyebutnya tabib bagi para ahli Qur’an. Ia sering mengunjungi dan memeriksa orang-orang shalih. Ia pernah menceritakan pengalamannya kepadaku, “Suatu hari aku pergi menemui Imam Ahmad bin Hanbal, yang sedang bersedih. Aku kemudian bertanya kepadanya, “Bagaimana keadaanmu, wahai Abu Abdillah?”

Ia menjawab, “Aku baik-baik saja.”

Aku menyahut, “Baik bagaimana?”

Imam Ahmad menceritakan, “Aku telah mendapat ujian dengan fitnah (khalqul Qur’an), sehingga aku dicambuk. Hanya saja aku masih merasakan sakit pada tulang punggungku. Rasa sakitnya jauh melampaui rasa sakit akibat cambukan yang aku alami.”

Aku katakan kepadanya, “Coba singkapkan tulang punggungmu kepadaku.” Aku pun melihat punggungnya, tapi aku tidak melihat apa-apa selain bekas cambukan. “Aku belum tahu penyebabnya, tapi aku akan mencoba mencari tahu.”

Ketika keluar dari Imam Ahmad, aku segera menemui temanku yang menjaga penjara. Kami sama-sama memiliki kelebihan pengetahuan. Aku berkata kepadaya, “Aku ada sedikit keperluan, bolehkah aku masuk ke penjara?” ia menjawab, “Masuklah.”

Aku kemudian masuk ke dalam penjara. Aku kumpulkan para pemuda. Saat itu aku membawa beberapa uang dirham yang aku bagi-bagikan kepada mereka. Aku pun banyak berbincang-bincang dengan mereka sehingga mereka merasa senang dengan keberadaanku. Lalu aku mencoba bertanya, ”Siapa di antara kalian yang paling banyak dicambuk?” Mereka saling membanggakan diri mereka, hingga akhirnya mereka sepakat pada satu orang yang paling banyak dicambuk dan paling sabar.

Aku kemudian bertanya kepadanya. “Bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Ia menjawab, “Silahkan.”

Aku pun bercerita, “Ada seorang kakek tua yang lemah, apa yang ia lakukan tidak seperti yang telah kalian lakukan. Ia dicambuk dalam keadaan lapar agar ia mati. Tapi ia belum mati juga. Kemudian ia diobati dan ia pun sembuh. Hanya saja, pada bagian tulang punggungnya ia masih merasakan sakit yang dahsayat hingga ia tidak mampu menahannya.”

Tiba-tiba orang yang aku tanyai tertawa. Aku pun bertanya, “Ada apa denganmu?” Ia menjawab, “Orang yang mengobatinya adalah tukang tenun.” Aku terkejut seraya berucap, “Benarkah itu?” Ia melanjutkan, “Ia membiarkan sepotong daging mati tertinggal pada tulang rusuknya. Dan ia tidak mencabutnya.”

Aku pun bertanya, “Bagaimana rekayasa itu bisa terjadi?”

Ia menjawab, “Ia membedah tulang rusuknya. Lalu ia mengambil sepotong daging itu, dan meletakkan pada tulang rusuknya. Jika daging itu dibiarkan, ia akan sampai pada hati hingga ia bisa menyebabkan kematian.”

Aku segera meninggalkan penhara, dan menemui Imam Ahmad bin Hanbal. Ia masih berada di tempat dengan keadaan yang sama. Lalu aku menceritakan apa yang telah aku ketahui. Imam Ahmad bertanya, “Jika demikian, siapa yang akan membedahku lagi?”

Aku menjawab, “Aku yang akan membedahnya.”

Imam Ahmad bertanya, “Kamu yang akan melakukan?”

Aku menjawab, “Ya.”

Imam Ahmad segera masuk ke rumah kemudian keluar dengan membawa dua banta, dan meletakkan handuk di bahunya. Satu bantal disiapkan untuk diriku dan satu bantal untuknya. Kemudian dia duduk di atas bantal itu. Ia berkata kepadaku, “Mintalah pilihan terbaik kepada Allah agar Dia memilihkan yang sesuai untukmu.”

Selanjutnya aku mengusapkan handuk pada tulang punggungnya. Aku katakan kepadanya, “Tunjukkan padaku mana daerah yang sakit.” Ia menjawab, “Letakkan jarimu pada punggungku, aku akan memberitahumu.” Sambil memegang punggungnya, aku katakan, “Apakah di sini tempat yang sakit?” Ia menjawab, “Alhamdulillah, itu baik-baik saja.”

Kembali aku bertanya, “Apakah ini yang sakit?”

Ia menjawab, “Alhamdulillah, itu baik-baik saja.”

“Apakah ini yang sakit?”

“Ya, di situ. Aku memohon kesehatan kepada Allah.”

Akhirnya aku mengetahui daerah yang sakit. Lalu aku meletakkan pisau yang panas. Saat merasakan panasnya pisau, Imam Ahmad meletakkan tangannya pada kepalanya seraya berucap, “Ya Allah, ampunilah Mu’tashim!” hingga aku berhasil membedahnya. Aku ambil daging mati itu, lalu aku buang. Aku jahit kembali luka yang dialami Imam Ahmad, dan ia masih saja berucap, “Ya Allah, ampunilah Mu’tashim!” hingga akhirnya, Imam Ahmad bisa tenang.

Keadaan hening, kemudian aku bertanya kepada Imam Ahmad, “Wahai Abu Abdillah, biasanya orang yang telah mendapatkan penganiayaan dari orang lain, ia akan mendoakan buruk orang yang menganiayanya. Tapi aku melihat dirimu mendoakan baik kepada Mu’tashim.”

Imam Ahmad menjawab, “Aku juga memikirkan seperti apa yang kamu ucapkan. Ia adalah keturunan paman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Aku tidak ingin saat di Hari Kiamat nanti, aku datang dengan membawa permusuhan terhadap salah seorang dari kerabat Rasulullah. Aku sudah memaafkannya.”

Betapa ajaibnya!

Sumber: Buku 155 Kisah Langka Para Salaf, penerbit Pustaka Arafah, hlm. 29-33

Share:

Leave a reply