Penaklukan Khulafaur Rasyidin

Perang Nahawand (Fathul Futuh) Tahun 21 Hijriyah

Pada tahun 19 Hijriyah, tentara Islam telah berhasil menguasai kota Bashrah dan Kufah. Setelah itu, tentara Islam mulai bergerak kembali untuk melanjutkan pembebasan. Sedangkan dua kota tersebut, Bashrah dan Kufah, telah dihuni oleh para penduduk muslim yang datang dari penjuru daerah, baik dari suku Arab maupun bukan, yang telah memeluk Islam. Adapun Raja Persia, Yazdajir, yang ketakutan berkelana ke timur negeri Persia dan berusaha menghimpun pasukan untuk menghalau tentara Islam.[1]

Yazdajir akhirnya berhasil menghimpun kekuatan yang jumlahnya lebih dari 100 ribu orang personil, untuk menyerang kaum muslimin. Umar radhiyallahu ‘anhu mengethui rencana tersebut, untuk itu dia menyiapkan tentara Islam untuk perang yang akan terjadi. Umar radhiyallahu ‘anhu ingin dirinya sendiri yang akan memimpin perang tersebut, tetapi para penasehatnya memintanya untuk tetap berdiam diri di Madinah. Karena mereka berpendapat itu pilihan yang lebih tepat bagi tentara Islam. Maka Umar pun memilih Nu’man bin Muqrin Al Muzani radhiyallahu ‘anhu sebagai panglima perangnya.[2]

Pada kesempatan kali ini, tentara Islam berinisiatif untuk menyerang terlebih dahulu daripada menunggu kedatangan pasukan Persia. Tentara Islam Islam lalu bergerak menuju Nahawand. Dibawah komando An Nu’man, tentara Islam berhasil memaksa pasukan Persia untuk terkurung di benteng Nahawand.

Tentara Islam lalu melanjutkan pengepungan benteng selama dua bulan tanpa adanya tindakan yang bertujuan mengakhiri perang. Tentara Islam kemudian menyiapkan siasat seperti meninggalkan tempat, yaitu melakukan pertikaian dengan Persia dan menampakkan kekalahan. Tujuannya adalah agar pasukan Persia mau keluar dari benteng. Rencana tersebut berjalan lancar, tentara Islam dan pasukan Persia, bertempur, lalu tentara Islam menampakkan usaha untuk lari dari medan perang. Pasukan Persia terpancing, mereka keluar dari benteng. Dan ketika itu mereka telah sempurna keluar dari benteng, secara tiba-tiba tentara kaum muslimin mengelilingi mereka, maka terjadilah perang yang sangat dahsyat.

Pada awal perang pemimpin tentara Islam An Nu’man bin Muqrin terbunuh, meskipun akhirnya tentara Islam berhasil menang. Orang-orang Persia yang msih berada di dalam benteng akhirnya menyerah dan berdamai dengan tentara Islam. Sementara itu Yadzajir, raja Persia, lari tunggang langgang menuju kearah timur. Perang yang terjadi di Nahawand ini tercatat sebagai perang terbesar yang terakhir dalam rangka pembebasan negeri Persia, oleh sebab itu, perang ini disebut sebagai Fathul Futuh (pembuka berbagai kemenangan).[3]

Setelah perang itu, tentara Islam mulai memperluas pembebasannya di negeri Persia. Tentara Islam berhasil menguasai sejumlah daerah hingga mencapai kawasan Sind. Meskipun raja Persia (Yazdajir) masih hidup, dan kekuasannya dapat dikatakan masih eksis disebagian kecil negeri Persia, tetapi Yazdajir harus hidup secara berkelanan dan tentara  Islam tidak memberi ruang lagi padanya untuk mengumpulkan dan membentuk pasukan lagi.[4]

Dikutip dari: Penaklukan Dalam Islam, DR.Abdul Aziz bin Ibrahim Al Umari, Penerbit Darussunnah

Note:

[1] Lihat: Khalifah ibn Khayyath, Tarikh Khalifah Ibn Khayyath 147, Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari 4/231

[2] Khalifah ibn Khayyath, Tarikh Khalifah Ibn Khayyath 128, Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari 4/232

[3] Khalifah ibn Khayyath, Tarikh Khalifah Ibn Khayyath 149, Al Baladziri, Futuh Al Buldan 300, Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari 4/240, Ibn Al Atsir, Al Kamil 3/11

[4] Lihat: Khalifah ibn Khayyath, Tarikh Khalifah Ibn Khayyath 150-151, Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari 4/247, 250, 253, 255, 256, 259, dan 262

Artikel: www.KisahIslam.net

Share:

Leave a reply