Biografi Shahabat

Khalifah Abu Bakar ash Shiddiq [Bag.05]

Keteladanan Agung Pada Hari Badar

Abu Bakar telah ikut berpartisipasi dalam setiap peperangan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia teguh bersama beliau dengan keteguhan tidak tertandingi.

Pada hari (perang) Badar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta pendapat para shahabat, maka Abu Bakar berbicara dengan baik, lalu terjadilah peperangan. Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Orang paling berani adalah Abu Bakar…Pada perang Badar kami membuat markas komando untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami berkata, ‘Siapa yang mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak seorang pun dari kaum musyrikin yang mencelakai beliau?’ Demi Allah, tidak seorangpun maju selain Abu Bakar dengan pedang terhunus di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada yang mendekat kecuali dia menghadapinya.” [1]

Dari Ibnu Sirin rahimahullah bahwa Abdurrahman bin Abi Bakar pada perang Badar ikut bersama orang-orang musyrikin! Ketika masuk Islam, dia berkata kepada ayahnya, “Sungguh, aku melihatmu mengincarku, tetapi aku selalu menghindarimu. Aku tidak mau membunuhmu.” Abu Bakar menjawab, “Adapun aku, jika engkau mengincarku, aku akan menghadapimu (tidak takut membunuhmu).” [2]

Dalam perang ini ayah bertemu dengan anak, saudara dengan saudara, dan prinsip hidup mereka yang bersebrangan maka perang memisahkan mereka. Sementara di zaman kita ini orang-orang komunis memerangi bangsanya sendiri. Mereka merobek ikatan kemanusian yang paling berharga demi apa yang mereka yakini. Sehingga, tidak aneh jika anda melihat seorang anak yang beriman marah kepada ayahnya yang mulhid (anti tuhan) dan menentangnya karena Allah. Perang Badar mencatat bentuk-bentuk perseteruan yang tajam ini. Abu Bakar berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan anaknya, Abdurrahman bersama Abu Jahal.[3]

Ini alah bentuk wala (loyalitas) dan bara’ (berlepas diri) tingkat tinggi.

Allah Ta’ala berfirman:
“Engkau (Muhammad) tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.” [QS.Mujaadilah:22]

Jibril Dan Mikail Berperang Bersama Abu Bakar dan Ali Radhiyallahu ‘Anhuma.

Dari Abu Shalih Al Hanafi, dari Ali, Ia berkata, “Dikatakan[4] kepada Ali dan Abu Bakar di Perang Badar:
‘Jibril bersama salah seorang dari kalian berdua, sedangkan Mika’il bersama yang lain. Israfil adalah Malaikat yang agung, dia ikut menyaksikan peperangan.’ Atau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Hadir dalam barisan.’ [5]

Ash Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu Termasuk Orang-Orang Yang Menjawab Seruan Allah dan Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu tentang firman Allah Ta’ala:
“Orang-orang yang menaati (perintah) Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). Orang-orang yang berbuat kebaikan dan bertakwa di antara mereka mendapat pahala yang besar.” [QS.Ali Imran:172]

Aisyah berkata kepada Urwah, “Wahai keponakanku! Kedua ayahmu termasuk mereka yaitu Az Zubair dan Abu Bakar. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan apa yang beliau dapatkan dalam perang Uhud, orang-orang musyrikin pulang ke Makkah. Beliau khawatir mereka akan kembali, maka beliau bersabda, “Saiap yang mau mengikuti mereka dibelakang mereka?” Maka keluarlah tujuh puluh orang, diantara mereka adalah Abu Bakar dan Az Zubair.” [6]

Keteguhan Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu Di Perang-Perang Yang Lain

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Abu Bakar begitu teguh layaknya gunung pada perang Uhud di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia melindungi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim sekelompok pasukan ke Bani Fazarah tahun ke-7 H dipimpin oleh Abu Bakar, maka pasukan ini mendatangi mata air, meraih rampasan perang dan tawanan, lalu pulang dengan selamat.

Pada perang Tabuk, perang yang sangat sulit bagi kaum muslimin, panji kaum muslimin di tangan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu.

Pada perang Hunain, ketika kaum muslimin berbangga diri dengan jumlah mereka yang besar, tetapi jumlah yang besar itu ternyata tidak berguna bagi mereka, mereka lari terpecah-pecah setelah sebelumnya musuh bersembunyi di cela-cela lembah. Orang pertama yang tetap teguh di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. [7]

Abu Bakar Taat Sepenuhnya Kepada Kitabullah

Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu sangat taat kepada Kitabullah. Dia tidak mendahulukan sesuatu atau mengakhirkannya, kecuali jika sejalan dengan perintah Allah Jalla wa ‘Ala.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang haditsatul ifki (fitnah dusta) yang menimpanya. Di dalamnya Aisyah berkata, “Ketika Allah menurunkan pembebasanku (dari fitnah dusta tersebut), Abu Bakar ash Shiddiq –biasanya ia selalu memberi nafkah kepada Misthah bi Utsman karena dia masih kerabatnya disamping karena dia miskin-, berkata, ‘Demi Allah, selamanya aku tidak akan memberikan nafkah apapun kepada Misthah setelah apa yang dikatakannya terhadap Aisyah. Maka Allah Ta’ala menurunkan (firman-Nya):

“Dan janganlah orang-orang yang mempunya kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS.An Nuur:22)

Abu Bakar berkata, ‘Benar, demi Allah. Sesungguhnya aku ingin Allah mengampuniku.’ Maka Abu Bakar kembali menafkahi Misthah. Dia berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan mencabutnya selama-lamanya.’” [8]

Dari Abi Mulaikah rahimahullah, ia berkata, “Abu Bakar ditanya tentang sebuah ayat di dalam Kitabullah, maka dia menjawab:

‘Bumi mana yang aku pijak dan langit mana yang akan menaungiku, kemana aku pergi dan apa yang bisa aku lakukan jika aku berkata tentang satu ayat dari Kitabullah dengan selain yang dikehendaki Allah?’”[9]

Dari Ibnu Sirih rahimahullah, ia berkata, “Tidak ada yang lebih takut dengan apa yang tidak dia ketahui daripada Abu Bakar ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ada suatu perkara yang terjadi pada Abu Bakar, tetapi dia tidak menemukan dasar dalam Kitabullah, tidak pula dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia berijtihad dengan pendapatnya, kemudian dia berkata, ‘Ini adalah pendapatku. Jika benar maka ia dari Allah, namun j ika salah maka ia dariku dan aku memohon ampun kepada Allah.’”[10]

Kesesuaian Abu Bakar Dengan Al Habib shallallahu ‘alaihi wa sallam Pada Perjanjian Hudaibiyah

Abu Bakar ash Shiddiq telah memainkan sebuah sikap agung di mana shahabat-shahabat yang lain hampir menentangnya karena butir-butir perjanjian damai yang dibuat oleh orang-orang musyrikin.

Namun ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, orang yang paling mirip dengan Al Habib shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pemikiran dan kejernihan hatinya bahkan dalam pembicaraannya, melihat kepada keadaan dengan bashirah yang tajam dan mendalam yang tidak terbatas.

Pada saat para Shahabat melihat bahwa syarat-syarat dari Quraisy menzhalimi kaum muslimin, dan bahaw posisi kaum muslimin adalah hina, justru ash Shiddiq bersama Al Habib shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bahwa posisi kaum muslimin adalah kuat dan mulia.

Sampai-sampai Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu tidak menyetujui sikap yang diambil oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap syarat-syarat tersebut. Umar berkata, Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Bukahkan engkau adalah Nabi Allah yang sebenarnya?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Benar.”

Aku berkata, “Lalu mengapa kita menerima kehinaan ini dalam agama kita?”

Nabi menjawab, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Aku tidak durhaka kepada-Nya. Dia yang akan menolongku.”

Umar berkata, “Bukankah engkau telah menyampaikan kepada kami bahwa kami akan masuk ke Makkah lalu thawaf?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Benar, tetapi apakah aku mengatakan kepadamu tahun ini?”

Aku menjawab, “Tidak.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau akan datang dan thawaf.”

Umar berkata, lalu aku datang kepada Abu Bakar, aku berkata, “Bukankah beliau adalah Nabi Allah yang sebenarnya?”

Abu Bakar menjawab, “Benar.”

Aku berkata, “Bukankah kita di atas kebenaran, sedangkan musuh kita di atas kebatilan?”

Abu Bakar menjawab, “Benar.”

Aku berkata, “Lalu mengapa kita menerima kehinaan ini dalam agama kita?”

Abu Bakar menjawab, “Wahai Umar! Sesungguhnya beliau adalah utusan Allah, beliau tidak durhaka kepada-Nya, dia yang akan menolong beliau, peganglah ikatannya yang kuat.” (Yakni, ikuti saja kata-kata dan perbuatannya, jangan menentangnya)

Aku berkata, “Bukankah beliau telah menyampai kepada kita bahwa kita akan masuk ke Makkah lalu thawaf?”

Abu Bakar menjawab, “Benar, tetapi apakah beliau mengatakan kepadamu tahun ini?”

Aku menjawab, “Tidak. Beliau hanya mengatakan, ‘Engkau akan datang dan thawaf.’”[11]

Alangkah sucinya hati ini, mirip dan bertemu di atas kecintaan karena Allah ‘Azza wa Jalla.

Siapa yang mebaca kata-kata ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan cermat, niscaya dia melihat bahwa ia sama persis dengan kata-kata yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh sebuah kesesuaian di antara arwah-arwah yang suci, bersih, bertakwa, dan jujur.

Foot Note:
[1] Majma ‘uz Zawaaid (IX/46)
[2] Taarikh Al Khulafaa’ hal.36
[3] Fiqhus Siirah karya Al Ghazali hal.267
[4] Yang berkata adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana hal itu dinyatakan dalam riwayat Abu Ya’la dan Al Hakim
[5] Diriwayatkan oleh Ahmad I/147 dan Al Hakim III/134, dia berkata, “Ini adalah hadits dengan sanad yang shahih, tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.” Adz Dzahabi mengisyaratkan bahwa hadits ini berdasarkan syarat Muslim.
[6] HR.Bukhari No.4077 dan Muslim No.2418
[7] Zaadul Ma’aad III/469, cet.Mu-assasah Ar Risalah Beirut
[8] HR.Bukhari no.4750 kitab At Tafsiir
[9] Disebutkan Al Hafizh dalam Al Fath XIII/271, Dia berkata, ‘Atsar ini hasan.’
[10] Atsar ini terdapat dama Musnad ‘Abd bin Humaid. Al Adawi (pentahqiq kitab tersebut) berkata, “Ia shahih, rawi-rawinya terpercaya.”
[11] HR.Bukhari no.2731

Sumber: Disalin dari Buku ‘Shahabat-Shahabat Rasulullah, Syaikh Mahmud Al Mishri, Jilid 1. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir

Artikel: www.KisahIslam.net

Share:

3 comments

  1. sinta training management 26 January, 2016 at 11:08 Reply

    ceritanya amat sangat bagus……keteladanan seorang abu bakar ash shidiq ini memotivasi saya karena saya mempunyai nama yang sedikit mirip dengan beliau…hihi
    semoga juga sama dalam hal perilakunya dengan saya…amiinn

    terima kasih kisahislam.net semoga trus brkmbang dan terus mencritakan kisah-kisah islam….

Leave a reply