Biografi Shahabat

Khalifah Abu Bakar ash Shiddiq [Bag.04]

Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu Selalu Berada Di Garis Depan Dalam Setiap Kebaikan

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‘Siapa diantara kalian yang berpuasa hari ini?’ Abu bakar menjawab, ‘Saya.’ Nabi bertanya diantara kalian yang mengantarkan jenazah hari ini?’ Abu Bakar menjawab, ‘Saya.’ Nabi bertanya, ‘Siapa diantara kalian yang memberi makan orang miskin hari ini?’ Abu bakar menjawab, ‘Saya.’ Nabi bertanya, ‘Siapa diantara kalian yang menjenguk orang sakit hari ini?’ Abu Bakar menjawab, ‘Saya.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Semua itu tidak terkumpul pada seseorang kecuali dia akan masuk Surga.’” [1]

Dari Bakr Al Muzani rahimahullah, ia berkata, “Abu bakar tidak mengungguli Sahabat-Sahabat Muhammad dengan puasa dan shalat, tetapi dengan sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya.”

Ibrahim berkata, “Telah sampai kepadaku dari Ibnu ‘Ulaiyyah bahwa dia berkata setelah hadits diatas, ‘Yang bersemayam didalam hatinya adalah kecintaan kepada Allah Ta’ala dan nasihat untuk makhluk’Nya.’”[2]

Sikap Abu Bakar Yang Agung Dalam Kisah Isra’ dan Mi’raj

Setelah peristiwa Isra’ dan Mi’raj, orang-orang musyrikin datang kepada Abu Bakar. Mereka berkata, “Kawanmu mengaku bahwa dia telah melakukan perjalanan malam hari ke Masjid Aqsha kemarin malam, padahal kami mengendarai punggung onta ke sana sebulan penuh.” Maka Abu Bakar menjawab, ‘Jika dia berkata demikian, dia pasti jujur.”

Dalam sebuah riwayat: maka ash Shiddiq bersegera untuk membenarkannya. Dia berkata, “Sesungguhnya aku percaya kepadanya terkait dengan berita langit (yang turun) pagi dan petang, lalu mengapa aku tidak mempercayainya terkait dengan Baitul Maqdis.”[3]

Oleh karena itu dikatakan bahwa Abu Bakar di juluki ash Shiddiq karena pembenarannya mengenai peristiwa Isra’ dan Mi’raj, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Jibril pada malam Isra’, sesungguhnya kaumku tidak mempercayaiku.” Maka Jibril menjawab,”Abu Bakar membenarkanmu dan dia adalah ash Shiddiq.”[4]

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bersumpah bahwa Allah Ta’ala menurunkan nama ash Shiddiq untuk Abu Bakar dari langit.[5]

Peran Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu Pada Malam Hijrah Yang Diberkahi

Kalau pun kita lupa, kita tetap tidak akan melupakan selama-lamanya sikap agung Abu Bakar pada malam hijrah yang penuh berkah.

Para pemuka Quraisy berkumpul di Daun Nadwah dan mereka telah bersepakat untuk membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Pada waktu itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Makkah, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kaum muslimin, ‘Sesungguhnya negeri hijrah kalian telah ditampakkan kepadaku. Negeri dengan pohon-pohon kurma di antara dua bukitnya yang hitam.’ Maka berhijrahlah orang-orang yang berhijrah ke Madinah. Mayoritas kaum muslimin yang telah berhijrah ke Habasyah pulang menuju Madinah. Abu Bakar sendiri telah bersiap-siap menuju Madinah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada, ‘Tetaplah ditempatmu, karena aku masih menunggu izi (dari Allah).’ Maka Abu Bakar berkata, ‘Apakah engkau masih mengharapkan itu, aku korbankan ayah dan ibuku demi dirimu?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ya.’ Maka Abu Bakar menahan dirinya untuk mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakar juga menyiapkan dua ekor unta pilihan. Dia memberinya makan daun pohon Samurah selama empat bulan.

Ketika putusan zhalim untuk membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah disepakati, Jibril Alaihis salam turun membawa wahyu Rabb-Nya Tabaaraka wa Ta’aala. Jibril menyampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetang makar jahat orang-orang Quraisy dan bahwa Allah Ta’ala telah mengizinkan beliau untuk berhijrah serta menentukan waktu hijrah seraya berkata, ‘Jangan bermalam pada malam ini di atas ranjangmu yang biasa engkau tidur di atasnya.’”[6]

Di siang harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju rumah Abu Bakar untuk mematangkan rencana hijrah.
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Siang itu kami sedang duduk dirumah Abu Bakar. Seseorang berkata kepada Abu Bakar, ‘Ini Rasulullah datang dengan kepala tertutup.’” Aisyah berkata, ‘Ini adalah waktu dimana tidak biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang. Maka Abu Bakar berkata, ‘Aku korbankan ayah dan ibuku demi dirinya, beliau tidak datang pada saat seperti ini, kecuali karena ada perkata penting.’”

Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, Beliau meminta izin maka beliau diizinkan, lalu beliau masuk. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Bakar, ‘Keluarkanlah orang-orang yang ada dirumahmu.’ Maka Abu Bakar menjawab, ‘Mereka tidak lain kecuali keluargamu sendiri wahai Rasulullah.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku telah diizinkan untuk berhijrah.’

Abu Bakar bertanya, ‘Apakah ini berarti aku mendampingimu, wahai Rasulullah?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Benar.’ Abu Bakar berkata, ‘Kalau begitu, ambillah salah satu dari kedua unta ini, wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Dengan harga.’

Aisyah berkata, “maka kami segera menyiapkan keperluan keduanya dengan teliti dan cepat. Kami memasukkan bekal keduanya kedalam sebuah kantong. Asma binti Abi Bakar Radhiyallahu ‘anha membelah ikat pinggangnya menjadi dua, salah satunya dia gunakan untuk mengikat kantongnya yang berisi bekal makan, dengan itu dia dijuluki Dzatun Nithaq.”[7]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu di malam yang mencekam itu agar tidur di atas tempat tidur beliau dan berselimut kain yang biasa beliau gunakan. Di malam itu, ketika para penunggu sedang lengah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelinap keluar dari rumah menuju rumah Abu Bakar, lalu keduanya keluar dari pintu belakang rumah Abu Bakar menuju Gua Tsur. Menuju kedua, risalah penutup ini serta masa depan peradaban sempurna diserahkan sepenuhnya kepada penjagaan Ilahiyah, dititipkan dalam penjagaan ‘diam’ dan ‘terasing’ serta ‘keterputusan’ dari dunia luar.

Semua urusan berjalan seperti yang telah diperkirakan. Abu Bakar memitna anaknya Abdullah agar mencari dengar apa yang dikatakan oleh orang-orang Makkah tentang mereka berdua, lalu di sore hari dia datang ke gua dan menyampaikan apa yang dia dengar hari ini kepada mereka berdua.

Abu Bakar memerintahkan Amir bin Fuhairah, mantan hamba sahayanya, agar menggembalakan kambingnya di siang hari dan membawanya ke gua disore hari untuk istirahat. Abdullah bin Abu Bakar berada ditengah-tengah Quraisy menyimak apa yang mereka rencanakan dan apa yang mereka katakan terkait dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar lalu disore hari dia menceritakan apa yang dia dengar kepada keduanya. Disiang hari Amir bersama para penggembala Makkah, namun di sore hari dia menggiring domba-domba Abu Bakar ke gua sehingga keduanya bisa minum susunya dan makan dagingnya. Jika Abdullah beranjak dari mereka berdua untuk kembali ke Makkah, Amir menggiring domba-domba di belakangnya untuk menghapus jejak Abdullah.

Ini adalah kehati-hatian yang sangat mendalam. Kondisi dan keadaan memang mengharuskan demikian kepada manusia biasa.

Orang-orang musyrikin Makkah bergerak menelusuri jejak orang-orang yang berhijrah. Mereka mengawasi jalan-jalan, memeriksa setiap lorong yang bisa digunakan untuk berlari, mereka mengaduk-aduk gunung-gunung dan gua-gua di Makkah sehingga mereka tiba dekat Gua Tsur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar mendengar derap kaki orang-orang yang mencari keduanya. Langkah-langkah itu menuju mereka, maka ketakutan menyerang Abu Bakar. Dia berbisik kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kalau salah seorang dari mereka melihat kebawah kakinya, niscaya dia melihat kita.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu Bakar…! Apa dugaanmu dengan dua orang yang pihak ketiganya adalah Allah.[8]”[9]

Abul Qasim Al Baghawi rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar berangkat ke Gua Tsur, sesekali Abu Bakar berjalan di depan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sesekali di belakang, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya tentang hal itu, Abu Bakar menjawab, “Jika Aku di belakangmu, aku khawatir musuh datang dari depanmu. Jika aku di depanmu, aku khawatir musuh datang dari belakangmu.”

Ketika keduanya tiba di gua, Abu Bakar berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan masuk, biarkan aku masuk terlebih dahulu. Jika ada sesuatu, ia akan menimpaku bukan menimpamu.” Maka Abu Bakar masuk, membersihkannya, dan melihat sebuah lubang disisinya. Lalu dia merobek pakaiannya dan menyumpalkanya ke lubang tersebut, namun masih ada dua lubang lagi, kemudian dia menyumbat keduanya dengan kakiknya. Setelah itu dia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, masuklah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kepadanya di pangkuan Abu Bakar dan beliau tidur. Abu Bakar disengat binatang berbisa pada kakinya yang menyumpal lubang, tetapi dia diam saja karena takut membangunkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sakit, Abu Bakar tidak kuasa menahan air matanya. Air mata itu jatuh ke wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, “Ada apa denganmu, wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab, “Aku disengat, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meludahinya dan ia pun sembuh.” [10]

Demikianlah Abu Bakar berharap bisa mengorbankan dirinya, hartanya, dan segala apa yang dimilikinya demi Al Habib shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah cinta sempurna darinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa mengharapkan kedudukan atau jabatan, tetapi dia berangkat karena mengharapkan wajah Allah. Dia mengetahui dengan pasti bahwa pedang-pedang kaum musyrikin menantinya di luar, sekalipun demikian dia tetap berangkat dan dia pun meraih kehormatan mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat hijrah.
Umar radhiyallahu berkata, “Satu malam dari Abu Bakar lebih baik daripada keluarga Umar.” Maksudnya, malam di gua bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hijrah adalah peristiwa agung, tidak patut dilupakan selama-lamanya. Ia bukan sekedar berlaari dari satu negeri ke negeri lain, tetapi ia merupakan langkah untuk mendirikan negeri kaum muslimin di mana agama Allah Jalla wa ‘Ala mendapatkan tempat yang layak.

Selamat untuk Abu Bakar yang telah meraih sebuah kehormatan agung berupa mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hijrahnya dari Makkah ke Madinah.

Foot Note:
[1] HR.Muslim no.1028
[2] Istinsyaaq Nasiim Al Unsi, Ibnu Rajab hal.13
[3] Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir III/108
[4]At Tabshirah, Ibnul Jauzi I/238-402
[5] Ibnu Hajar berkata dalam Al Fath XI/7, “Diriwayatkan oleh Ath Thabarani, dan rawi-rawinya tsiqah.”
[6] As Siirah an Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam I/482 dan Zaadul Ma’aad II/52
[7] HR.Bukhari VII/272,273
[8] HR.Bukhari II/207, Muslim VII/109
[9] Fiqhus Siirah karya Al Ghazali hal.190-191
[10] Diriwayatkan oleh Razin dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Di dalamnya disebutkan, “Kemudian racun dari sengatan tersebut kambuh menjelang wafat dan ia menjadi sebab kematiannya.” Lihat Misykaatul Mashaabiih bab.Manaqib Abi Bakrin II/56

Sumber: Disalin dari Buku ‘Shahabat-Shahabat Rasulullah, Syaikh Mahmud Al Mishri, Jilid 1. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir

Artikel: www.KisahIslam.net

Share:

Leave a reply