Penaklukan Khulafaur Rasyidin

Pembebasan Al-Hirah & Al-Anbar, Tahun 12 Hijriyah

Al-Hirah adalah ibukota kerajaan Arab yang terasing. Kerajaan ini merupakan kerajaan yang paling besar dan paling terkenal dibanding kerajaan-kerajaan Arab lainnya. Suku-suku Arab banyak terkelompok di daerah-daerah yang berlainan, dan mereka tunduk kepada Persia.209

Setelah Khalid bin Walid menjalani sejumlah peperangan melawan Nashrani Arab di kawasan Irak, Khalid bertolak menuju Al-Hirah. Pasukan yang ada di Al-Hirah baik dari Arab dan Persia, berusaha menghalangi perjalan tentara Islam menuju kota mereka. Karena tentara kaum muslimin memanfaatkan kapal untuk mengangkut pasukan melalui sungai Eufrat yang menuju Al-Hirah. Pasukan Al-Hirah berusaha mengalihkan aliran sungai Eufrat agar perjalanan kapal tentara kaum muslimin mendapat kendala. Pasukan kaum muslimin lalu memanfaatkan perahu kecil untuk menghilangkan mereka yang mengubah aliran air, sehingga pasukan kaum muslimin berhasil sampai di Al-Hirah.

Berita terbunuhnya beberapa pasukan Al-Hirah yang sampai kepada penduduk Al-Hirah, telah membuat persatuan mereka hilang. Kemudian datang para utusan mengabarkan meninggalnya raja Persia. Bertambahlah ketakutan pemimpin pasukan Al-Hirah yang dari Persia. Sang pemimpin yang ketakutan itu lalu meninggalkan kekuasaan Al-Hirah kepada penduduk aslinya, Nashrani Arab, untuk melanjutkan perbaikan kota dan melawan tentara kaum muslimin. Tentara kaum muslimin lalu mengepung kota tersebut, mereka dipaksa menyerah dan berdamai dengan kaum muslimin dengan cara membayar pajak. Kota itu pun akhirnya dibuka di bawah mandat tentara Islam. Dengan dikuasainya kota Al-Hirah, maka para penguasa Arab yang berada di dekat kota Al-Hirah tunduk kepadanya, mengirimkan utusan untuk menyatakan kepatuhan terhadap Islam.

Kemudian Khalid Radhiyallahu Anhu beserta pasukannya bergerak menuju Al-Anbar. Ketika mereka sampai di kota itu, mereka mendapati penduduk kota tersebut telah mengurung diri di dalam kota, dengan membuat parit yang mengelilingi kota tersebut. Tentara Islam lalu mengepung mereka dan mempersempit ruang gerak penduduk kota. Beberapa kali terjadi pertempuran antara pasukan kota itu dengan tentara kaum muslimin sebelum mereka dipaksa menyerah dan diwajibkan membayar pajak kepada Islam.[2] Setelah berhasil menaklukkan kota Al Anbar, Khalid Radhiyallahu Anhu beserta pasukannya bertolak menuju Ain At-Tamr, negeri terdekat dengan Al-Anbar. Kota itu banyak dihuni oleh Nashrani Arab dan Persia. Tentara Islam pun memerangi mereka. Perlawanan lebih banyak dilakukan oleh Nashrani Arab dari pada Persia ketika melawan tentara Islam. Namun Khalid bin Al-Walid berhasil menahan pemimpin mereka, sehingga bawahannya lari tercerai berai. Berhasillah kaum muslimin menguasai kota Ain At-Tamr.[3]

[1] Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih mendetail tentang kerajaan ini, lihat: Al-Mas’udi, Muruj Adz-Dzahab (2/90-105).

[2] Khalifah Ibnu Khayyath, Tarikh Khalifah Ibnu Khayyath (118). Al-Azdi, Futuh Asy-Syam (67). Al-Baladziri, Futuh Al-Buldan (246). Ath-Thabari, Tarikh AthThabari (3/17). Ad-Dzahabi, Tarikh Adz-Dzahabi (78).

[3] Ad-Dainuri, Al-Alchbar Ath-Thiwal (112). Ath-Thabari, Tarikh Ath-Thabari (3/21). Yaqut Al-Hamawi, Mu jam Al-Buldan (1/241). Ibn Katsir, Al-Bidyah wa An Nihayah (6/349)

Dikutip dari: Penaklukan Dalam Islam, DR.Abdul Aziz bin Ibrahim Al Umari, Penerbit Darussunnah

Dipublikasikan kembali oleh: www.KisahIslam.net

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

Share:

Leave a reply

Hosted by Bestariwebhost - Web Hosting murah Vps Murah Indonesia