Daulah Abbasiyyah

Masa Pertama Kekhalifahan ‘Abbasiyyah [Bag.01]

MASA PERTAMA

Masa Abbasiyyah Pertama

1) Kelebihan Kelebihan dan kekhususan masa ini:

Masa ini memiliki sejumlah kelebihan dan kekhususan sebagai berikut:

  1. Para khalifah yang kuat.
  2. Perhatian kepada jihad.
  3. Berkembangnya kehidupan ilmiyyah.
  4. Kemakmuran ekonomi.
  5. Perlawanan dari sejumlah suku dan kaum zindiq.
  6. Awal mula munculnya pembagian daulah (negara) Islam dan pengaruh fitnah (huru hara dan lain-lain-pen) dalam negeri.

(1) Para khalifah yang kuat:

Para khalifah yang memegang Daulah Abbasiyyah berjumlah 37 khalifah. Sepuluh khalifah yang pertama adalah para khalifah dari Masa Abbasiyyah Pertama. Mereka berperan sebagai khalifah yang memiliki kekuatan. Para khalifah ini adalah Abul ‘Abbas Abdullah bin Muhammad, Abu Ja’far Al-Manshur, Al-Mandi, Al-Hadi, Ar-Rasyid, Al-Amin, Al-Makmun, Al-Mu’tashim, Al-Watsiq, dan Al-Mutawakkil.

Masa pemerintahan mereka dihitung sebagai masa-masa keemasan dan paling kuat pengaruhnya dalam sejarah Daulah Abbasiyyah. Masa pemerintahan mereka memiliki kelebihan berupa berkuasanya negara atas para rakyat. Para khalifah sendiri memiliki kepribadian yang kuat sehingga memberikan kemampuan kepada mereka untuk menjalankan tugas-tugas kenegaraan berupa kepemimpinan negara dan pengaturan berbagai macam bidang. Juga membuat mereka mampu memupuskan segala bentuk rongrongan terhadap kewibawaan negara. Sebagaimana pula membuat mereka mampu untuk bergadang dalam rangka memperbaiki keadaan rakyat, memerhatikan kebutuhan-kebutuhan mereka, dan menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka.

(2) Perhatian kepada jihad:

Dengan sebab munculnya berbagai fitnah (huru-hara) dan pergerakan perlawanan terhadap (penguasa) yang dihadapi oleh umat Islam pada akhir masa pemerintahan Daulah Umawiyyah dan permulaan masa pemerintahan Daulah Abbasiyyah, maka upaya jihad pun terhenti. Sebagian pihak yang semula tunduk kepada kaum muslimin mulai memutuskan perjanjiannya dan tidak lagi mau membayar upeti. Terkhusus Imperium Romawi yang menyerang dan mencaplok sebagian wilayah perbatasan negara Islam.

Ketika kekuasaan telah benar-benar dikuasai oleh bani `Abbas, mereka mulai melanjutkan pergerakan jihad. Yaitu ketika panglima Abbasiyyah, Abdullah bin Ali, berhasil mengakhiri khalifah bani Umayyah, Marwan bin Muhammad, maka Khalifah Abul ‘Abbas bersegera memerintahkannya untuk memimpin pasukan dalam rangka jihad perlawanan dan memberikan pelajaran kepada Romawi. Hanya saja perintah ini tidak berjalan sukses karena Abul ‘Abbas meninggal.

Ketika kekuasaan berpindah kepada Abu Ja’far Al-Manshur, is memerhatikan urusan jihad. Al-Manshur mengatur pasukan jihad untuk musim dingin dan musim panas. (Apakah anda ingat orang pertama yang mengatur pasukan perang untuk musim dingin dan musim panas?) Al-Manshur juga memerhatikan penjagaan benteng perbatasan dan memperkuatnya dengan pasukan perang.

Penambahan kekuatan pasukan yang dilakukan oleh para khalifah tidak semata dari sisi materi atau spirit saja. Namun penguatan pasukan ini ditambah juga dengan para khalifah yang langsung terjun memimpin jihad dengan dirinya sendiri. Para khalifah sendiri yang langsung memimpin pasukan dan memerangi bangsa Romawi, sehingga mereka berhasil merebut berbagai negeri dan memupuskan berbagai huru-hara. Dan sebagian khalifah masa ini ada yang meninggal di tengah perjalanan jihadnya seperti yang terjadi pada Ar-Rasyid, Al-Mandi, dan Al-Makmun — semoga Allah merahmati mereka-.

Berikut adalah hasil gemilang dari perhatian mereka terhadap jihad:

  1. Keberhasilan kalangan bani ‘Abbas dalam menjaga kesatuan negeri Islam di bawah kepemimpinan mereka di Baghdad kemudian di Samara.
  2. Ketinggian dan kejayaan Islam terus terjaga di hadapan musuh-musuhnya hingga mereka menyerahkan jizyah (upeti) dengan tangan mereka sendiri dalam keadaan terhina.
  3. Keberhasilan mereka menjaga negeri Islam, terlebih dengan berbagai perluasan wilayah baru di seberang sungai Jihun dan selainnya.

Di antara yang terekam dalam sejarah bani Abass pada masa ini (Masa Pertama) yaitu pasukan jihad yang seringnya dipimpin, kalau tidak dipimpin langsung oleh para khalifah, maka dipimpin oleh para panglima dan keluarga Abbasiyyah seperti Al-Mahdi pada masa pemerintahaan ayahnya, Ar-Rasyid pada masa pemerintahan ayahnya, Abdullah bin ‘Ali, Isa bin Musa, `Abdul Malik bin Shalih, dan selain mereka. Tidak diragukan lagi hal ini akan menambahkan semangat jihad para mujahidin ketika mereka melihat khalifahnya atau pembesar keluarganya memimpin langsung dalam medan jihad.

(3) Semaraknya kehidupan ilmiyyah:

Masa Abbasiyyah Pertama memiliki kelebihan sebagai masa titik tolak utama dalam bidang ilmu dan pembukuan. Akan datang – insya Allah- pembicaraan tentang hal ini dalam bab kedua. Kita isyaratkan di sini bahwa titik tolak utama dalam bidang ilmu yang menjadi pendorong utamanya adalah para khalifah dan selain mereka dari kalangan pemerintah. Dan mereka bersegera memberikan perhatian kepada ilmu serta menjadi kekuatan utama pergerakan ilmiyyah. Kita sebutkan dari para khalifah itu adalah Khalifah Al-Manshur, Khalifah Al-Mandi, Khalifah Ar-Rasyid, Khalifah Al-Makmun, dan selain mereka.

(4) Perekonomian yang mapan:

Perekonomian pada Masa Abbasiyyah Pertama sangat kuat. Dimana Al-Manshur memberikan perhatian kepada pemasukan kas negara dan berjalan sesuai metode yang lurus dalam membelanjakannya, yaitu dengan tidak membelanjakannya kecuali pada hal-hal yang manfaatnya akan kembali kepada negara dan umat berupa kemapanan dengan tidak berlebihan dan tidak mengandung unsur kesombongan.

Oleh karena itu negara telah mewariskan tingkat kemapanan dan kekuatan ekonomi yang besar. Ketika muncul Al-Mahdi, ia berjalan di atas metode ayahnya dalam memerhatikan aset-aset ekonomi Daulah Abbasiyyah. Oleh karena itu ia memerhatikan pertanian, perdagangan, dan industri. Menyempurnakan berbagai pembangunan yang telah dimulai oleh Al-Manshur berupa pembangunan berbagai kota, penggalian sungai-sungai dan parit, membuat jalan-jalan, dan perbaikan tanah. Berbagai upaya ini memberikan pemasukan yang besar untuk Daulah Abbasiyyah. Hingga harta dari hasil bumi pada masa pemerintahan Ar-Rasyid lebih dari 42 juta dinar. Hingga Ar-Rasyid mengajak bicara awan ketika melihatnya dan ia berkata: Hujanilah dimana kamu maukan, pasti hasil bumi darimu akan kembali kepadaku. (Apa yang bisa anda ambil faedah dari perkataan Ar-Rasyid ini?)

Untuk pengaturan masalah kharaj (jumlah tertentu dari hasil bumi) yang diserahkan kepada pemerintah muslimin oleh wilayah yang berhasil ditundukkan dan pengaturan masalah ekonomi Daulah Abbasiyyah agar berada di atas al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah maka muncullah karya-karya tulis yang memerhatikan masalah ini, seperti Kitab Al-kharaj karya Abu Yusuf dan Kitab Al-Amwaal karya Abu `Ubaid serta kitab-kitab lainnya yang termasuk sebagai kitab-kitab pertama yang disusun dalam ilmu perekonomian.

Demikianlah, kita bisa mengatakan bahwa Masa Abbasiyyah Pertama memiliki kelebihan dalam kemapanan ekonomi. Di antara hasil dari kemapanan ekonomi ini adalah perkembangan peradaban dalam berbagai bidang dan dalam berbagai medan yang sebagiannya akan pembaca saksikan selanjutnya insya Allah.

Sumber: Disalin dari buku “TARIKH DAULAH ABBASIYYAH”, Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, Riyadh Saudi Arabia, Penerjemah: Fathul Mujib, Muroja’ah: Ustadz Abu Muhammad ‘Abdul Muthi, Lc Hafizhahullah, Penerbit Hikmah Ahlus Sunnah, Cet.Pertama.

Bersambung Insyaallah..

Artikel: www.KisahIslam.net

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

Share:

Leave a reply

Hosted by Bestariwebhost - Web Hosting murah Vps Murah Indonesia