Daulah Abbasiyyah

Masa Pertama Kekhalifahan ‘Abbasiyyah [Bag.02]

(5) Perlawanan Kesukuan dan Kaum zindiq:

* Kesukuan: penisbatan kepada suku, dalam hal ini yaitu penamaan untuk berbagai kelompok yang disatukan oleh kedengkian terhadap Islam, peradaban, dan bahasanya – yaitu bahasa ‘arab-. Kesukuan ini dipimpin oleh satu kaum dari Persia, yaitu mereka dari kalangan Majusi (penyembah api). Pemikiran mereka berdiri di atas pola dasar pelecahan terhadap bangsa ‘Arab dan menghina urusan mereka. Pemikiran ini bukan karena sesuatu apapun melainkan karena mereka (bangsa ‘Arab) adalah pembawa Islam dan dengan bahasa mereka Al-Qur’an diturunkan. Sehingga kesukuan ini adalah salah satu gambaran perang pemikiran yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam dari kalangan Majusi (penyembah api) dan selain mereka dalam rangka melawan agama ini dan para generasi penerusnya.

Para pengusung kesukuan memulai perang pemikirannya ini dari fanatik kebangsaan dan pemahaman yang bersifat kesukuan. Yang menjadi tujuan utama dan kebiasaan mereka adalah mencela dan menjelekkan bangsa ‘Arab dan bahasa mereka. Mereka melakukannya agar bisa mencela Islam, yaitu dengan mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencela Al-Qur’an yang Allah turunkan dengan:

“Dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy Syuara’:195)

Dan inilah tujuan mereka yang sebenarnya. Para pengusung paham kesukuan (kebangsaan) menjadikan serangan kepada bangsa ‘Arab dan bahasanya hanya sebagai kedok untuk menutupi di balik tujuan mereka yang sebenarnya. Sebagaimana pula mereka hendak memecah belah kesatuan yang sesungguhnya – yang dikokohkan oleh Islam antara berbagai jenis manusia yang berbeda-beda di atas keimanan kepada Allah semata dan persaudaraan karena iman. Ini (kesatuan dan persatuan yang hakiki-pen) sebagaimana yang Allah firmankan:

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat: 13)

Upaya memecah belah kesatuan dan persatuan yang hakiki ini dilakukan dengan menyebarkan seruan pembelaan terhadap daerah dan kebangsaan yang jelek. Sehingga seorang yang berkebangsaan Persia akan loyal karena kepersiannya. Seorang yang berkebangsaan Turki akan loyal karena keturkiannya. Seorang arab akan loyal karena kearabannya. Dengan demikian tali persaudaraan seislam akan memudar dan bangunan umat yang satu akan menjadi lemah, berubah menjadi bagian-bagian tubuh yang terpisah-pisah. Kemudian umat akan menjadi lemah dan hilang wibawanya. Lalu para musuh akan mendapatkan hasil dari semua ini dengan memperoleh keberhasilan tujuan jelek mereka.

Kalangan kesukuan dalam upayanya untuk mencapai tujuan-tujuan di atas menggunakan berbagai macam cara. Terkadang dengan menyusun buku-buku, membuat kisah-kisah dusta, melantunkan qasidah-qasidah (sya’ir) tentang kejelekan dan aib bangsa ‘Arab. Terkadang pula dengan membuat hadits-hadits palsu yang disandarkan kepada Rasulullah     tentang celaan terhadap bangsa ‘Arab dan bahasanya.

Hanya saja seruan bersifat kesukuan/kebangsaan ini di tengah-tengah umat — atas karunia dari Allah — terdapat pihak-pihak yang menghadapinya dengan menelanjangi hakekatnya dan membongkar tipu dayanya hingga kaum muslimin tidak tertipu oleh mereka. Di antara para ulama yang melakukan bantahan ini adalah Ibnu Qutaibah Ad-Dainawari dalam kitabnya Al-‘Arab wa Ar-Radd ‘ala Asy-Syu’ubiyyah (Bangsa ‘Arab dan Bantahan untuk Kalangan Kebangsaan dan Nasionalis). Jadilah karunia umat ini dalam pembangunan peradaban Islam terus berlanjut melalui suku bangsa dan jenis manusia yang berbeda. Mereka disatukan oleh ikatan iman, tidak ada yang lebih utama kecuali dengan ketakwaan. Sehingga generasi terbaik dan para tokoh umat ini berasal dari berbagai suku dan jenis.[1] Pada yang demikian terdapat bukti atas gagalnya upaya pemetakan berdasar suku bangsa yang dibenci.

* Kaum zindiq: kaum zindiq dimutlakan untuk kalangan yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan keyakinan majusinya (penyembahan kepada api) atau yang lainnya dari berbagai macam sekte dan aliran kepercayaan. Kemudian pemakaian istilah ini meluas sehingga mencakup kalangan ibahiyah (yang membolehkan segala sesuatu) dan ateis yang tidak memiliki agama.

Mayoritas kaum zindiq pada Masa Abbasiyyah Pertama adalah dari kalangan Persia yang kerajaan Majusi mereka berhasil dihancurkan oleh Islam. Sehingga mereka tidak lagi memiliki kekuatan untuk menghadapi Islam di dalam medan pertempuran. Lalu mereka berupaya melancarkan gerakan perusakan aqidah islamiyyah dengan menyandarkan din mereka sebagai pemeluk Islam secara lahirnya (pura-pura masuk Islam) sehingga kewibawaan mereka terjaga dan mudah bagi masing-masing jiwa untuk mengambil perkataan mereka.

Pengajaran-pengajaran kaum zindiq bertujuan menghancurkan masyarakat Islam dan merusaknya dari dalam. Yaitu dengan cara menghancurkan tonggak-tongak agama, akhlak, dan sifat-sifat keutamaan.

Kaum zindiq dalam menyebarkan racunnya bersandar kepada penyebaran ilmu dan adab. Yaitu untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran ateis mereka, ibahiyah, dan membuat ragu tentang aqidah islamiyyah dan kemuliaan akhlaknya. Upaya ini juga sebagai tambahan dari gerakan yang dibangun di atas pengobaran semangat kesukuan. Sebagaimana pula mereka membuat makar, mengobarkan fitnah (huru hara) dan melakukan pergerakan rahasia untuk melawan Daulah Abbasiyyah dan masyarakat Islam. Di antara contoh huru hara itu adalah fitnah Ar-Rawandiyyah[2], Al-Babakiyyah[3], Al-Muqanna'[4], dan selainnya. Karena tingkat bahaya yang tinggi dari kaum zindiq, maka masyarakat Islam memberikan perhatian untuk melawannya semenjak masa pemerintahan Al-Manshur – rahimahullah, yang memerangi gerakan Rawandiyyah dan berhasil menumpas mereka atas karunia dari Allah. Sebagaimana pula yang dilakukan oleh Al-Mahdi yaitu membentuk kantor/bagian khusus yang bertugas mengawasi mereka dan memberikan wasiat kepada anaknya, Al-Hadi, untuk mengawasi mereka dan menumpasnya. Kalangan Abbasiyyah berhasil dengan gemilang dalam menghadapi pergerakan mereka dan memupuskan bahayanya terhadap umat Islam hingga jauh, segala puji dan karunia bagi Allah.

Foot Note:

[1] Di antara para tokoh umat pada masa Daulah Abbasiyyah adalah Al-Imam Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibani, Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i Al-Muththalibi, Al-Imam Al-Bukhari, Al-Imam Muslim, Al-Imam Sibawaih, Al-Imam Al-Bairuni, Al-Imam Al-Khawarizmi, dan selain mereka.

[2] dinisbatkan kepada pimpinannya, Ibnu Ar-Rawandi.

[3] Dinisbatkan kepada pimpinannya, Babek A-Kharami

[4] Dinamai demikian sebagai penisbatan kepada pimpinan pergerakan yang mengenakan radar dari emas untuk menyembunyikan wajahnya yang buruk.

Sumber: Disalin dari buku “TARIKH DAULAH ABBASIYYAH”, Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah, Riyadh Saudi Arabia, Penerjemah: Fathul Mujib, Muroja’ah: Ustadz Abu Muhammad ‘Abdul Muthi, Lc Hafizhahullah, Penerbit Hikmah Ahlus Sunnah, Cet.Pertama.

Bersambung Insyaallah..

Artikel: www.KisahIslam.net

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

Share:

Leave a reply

Hosted by Bestariwebhost - Web Hosting murah Vps Murah Indonesia