Sang Penakluk

Panglima Islam: Shalahuddin al Ayyubi [Bag.02]

Shalahuddin dan Jihad

Hati Shalahuddin dipenuhi dengan cinta kepada jihad. Semangat jihad telah menguasai seluruh anggota tubuhnya. Sampai Simam Dzahabi berkata tentang Shalahuddin dalam kitab Siyar-nya, “Dia memiliki cita-cita luhur dalam membangkitkan jihad dan membasmi para penentang. Tidak terdengar seorang pun seperti dia pada masanya.” [adz Dzahabi, Siyar A’lam an Nubala’ 15/412]

Demi jihad ini dia rela meninggalkan keluarga, anak dan negerinya. Dia tidak condong kecuali untuk jihad, dan tidak cinta kecuali kepada para pecinta jihad. Qadhi Bahauddin berkata, “Seseorang jika ingin bisa dekat dengannya, maka dia menganjurkan orang itu untuk berjihad.” Qadhi ini juga berkata, “Jika seseorang bersumpah bahwa Shalahuddin tidak menginfakkan dinar ataupun dirham setelah dia keluar dari berjihad, tapi diaberinfak di saat berjihad, sunggu orang itu benar dan baik sumpahnya.” [Bahauddin Ibn Syidad, An Nawadir as Sulthaniyyah wa al Mahasin al Yusufiyah, hal.53-54]

Setiap orang memiliki cita-cita. Dan cita-cita seseorang sesuai kadar yang dianggapnya penting. Seolah-olah aku (Bahauddin) dengan Ibnul Qayyim yang member sifat Shalahuddin  ketika dia berkata, “Kebahagiaan tidak ditemukan dengan kebahagiaan, namun dengan kesulitan yang dilalui dan kepayahan yang ditanggung. Setelah itu akan datang kebahagiaan dan kenikmatan. Tiada kesenangan bagi orang yang tidak memiliki cita-cita, tidak ada kelezatan bagi orang yang tidak bersabar, tidak ada kenikmatan bagi orang yang tidak mengalami kesulitan dan tidak ada kenyamanan bagi orang yang tidak lelah berjuang.” [Ibn Qayyim, Miftah Dar as Saadah wa Manshur Wilayah al Ilmi wa al Idarah 2/15]

Demikianlah, kehidupan Shalahuddin semuanya adalah jihad. Dia kembali dari satu perang ke perang yang lain, dan satu pertempuran ke pertempuran yang lain. Penerjemahan Ibnu Atsir terhadap Shalahuddin dalam kitabnya, “Al Kamil Fi At Tarikh” menghabiskan lebih dari 220 halaman yang semuanya dipenuhi dengan jihad. Perang Hittin termasuk perang yang ditulis dengan pena dari sinar di atas lembaran-lembaran emas. Kitab itu telah menuliskan di hadapan sejarah kesaksian sang pahlawan terhadap makna-makna jihad dan pengorbanan.

Salahuddin

Perang dengan Orang-Orang Salibis

Ketika Shalahuddin al Ayyubi tengah sibuk memperluas kekuasaannya di Syam, biasanya dia tidak membiarkan orang-orang salibis tetap berada dalam kondisi mereka, namun selalu berharap untuk dapat berhadapan dengan mereka. Dan biasanya, dia memperoleh kemenangan ketika berhadapan dengan kaum salibis tersebut. Kecuali pada peristiawa Perang Montgisard pada tahun 574H bertepatan dengan tanggal 25 November 1177M, ketika orang-orang salib tidak menampakkan perlawanan, maka Shalahuddin al Ayyubi melakukan kesalahan dengan membiarkan tentaranya sibuk mengumpulkan ghanimah dalam keadaan berpencar kemana-mana. Maka kemudian kekuatan Baldwin VI Raja Jerussalem, Arnath dan para ksatria templar menyerang Shalahuddin dan mengalahkannya. Namun Shalahuddin kembali lagi dan menyerang kekuatan Eropa dari Barat, dan mengalahkan Baldwin dalam peperangan Marj Uyun pada tahun 575 H / 1179 M. Begitu juga pada tahun berikutnya dalam perang Khalij Ya’qub, kemudian terjadi kesepakatan gencatan senjata antara orang-orang salib dan Shalahuddin al Ayyubi pada tahun 576 H / 1180 M.

Namun orang-orang salib kembali melakukan penyerangan sehingga mendorong Shalahuddin membalasa serangan itu, juga dikarenakan Arnath telah mengganggu para pedagang dan jamaah haji kaum Muslimin melalui armada lautnya di Laut Merah. Kemudian Shalahuddin membangun armada laut yang terdiri dari tiga puluh kapal untuk menyerang Beirut pada tahun 577 H / 1182 M. Pada waktu yang sama Arnath mengancam akan menyerang Makkah dan Madinah. Maka kemudian Shalahuddin mengepung benteng al Kurk yang menjadi pertahanan Arnath selama dua kali, yaitu pada tahun 1183 M dan 1184 M, dan Arnath membalas serangan itu dengan  menyerang kafilah Haji Muslimin pada tahun 581 H / 1185 M.

Marj Uyun Lebanon Selatan

Marj Uyun, Lebanon Selatan.

Menaklukan al Quds

Pada tahun 583 H / 1187 M sebagian besar kota dan benteng kerajaan Baitul Maqdis jatuh di tangan Shalahuddin al Ayyubi. Setelah itu tentara Shalahuddin mengalahkan kekuatan salib dalam Perang Hittin pada tanggal 24 Rabi’ul Akhir tahun 583 H atau bertepatan dengan tanggal 4 juli 1187 M. Setelah peperangan dengan cepat pasukan Shalahuddin dan saudaranya Malik Adil menguasai kota-kota pesisir yang terletak di sebelah selatan Tharablus (Tripoli); Akan, Beirut, Shida, Yafa, Qaisariyah[1], Asqalan (Askelon). Shalahuddin memutuskan komunikasi kerajaan al Quds dengan Eropa. Dan pada paruh kedua bulan September 1187 M pasukan Shalahuddin mengepung al Quds. Kemampuan penjaganya yang sedikit tidak mampu melawan desakan enam puluh ribu orang. Setelah enam hari pengepungan akhirnya mereka menyerah. Pada tanggal 27 Rajab tahun 583 atau bertepatan dengan tanggal 12 Oktober 1187 M pintu-pintu al Quds dibuka dan bendera Sulthan Shalahuddin yang berwarna kuning dikibarkan di atas al Quds.

Perang Salib 2

Shalahuddin al Ayyubi memperlakukan al Quds dan penduduknya dengan lebih baik dan ramah daripada perlakuan tentara salib terhadap penduduknya ketika mereka merampas kota itu dari pemerintahan Mesir kurang lebih seratus tahun yang lalu. Di sana tidak terjadi peristiwa pembunuhan, perampasan, perusakan dan penghancuran geraja-gereja. Jatuhnya kerajaan al Quds membuat Roma mempersiapkan pasukan Salib yang ketiga untuk mengembalikan al Quds. Namun mereka gagal.

Bersambung Insyaallah..

Sumber: Dikutip dari ‘Para Penakluk Muslim Yang Tak Terlupakan’, Tamir Badar, Pengantar: Dr.Raghib As Sirjani, Penerbit al Kautsar

Artikel: www.KisahIslam.net

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

=

Share:

Leave a reply

Hosted by Bestariwebhost - Web Hosting murah Vps Murah Indonesia