Kisah Syiah Rafidhah

Pengkhianatan Syiah Kepada Husain Bin Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu

03Setelah wafatnya Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pada 60H yang sebelumnya beliau menunjuk Yazid bin Mu’awiyah untuk menjadi pemimpin yang niat beliau (dengan penunjukan tersebut) agar tidak terjadi lagi perpecahan di antara kaum muslimin dalam masalah kekuasaan. Maka berpalinglah para utusan ahli Iraq kepada Husain bin Ali radhiyallahu ’anhu dengan penuh antusias dan simpati. Lalu mereka berkata kepada Husain, “Kami telah menahan diri-diri kami demi engkau, dan kami juga tidak mengikuti shalat Jum’at bersama penguasa yang ada, maka datanglah engkau kepada kami.” (Târîkh ath-Thabarî 5/347)

Mereka juga berkata: “Bismillahirrahmanirrahim, untuk Husain bin Ali, dari syi›ah (pengikut) bapaknya Amirul Mukminin. Amma ba’du. Sesungguhnya orang-orang menunggumu dan tidak ada pendapat mereka kepada selainmu, maka bersegeralah! Bersegeralah!”

Penduduk Kufah menulis kepada Husain, mereka berkata: “Kami tidak memiliki imam, maka datanglah, semoga Allah akan mengumpulkan kami denganmu di atas al-haq.” (Lihat Târîkh ath-Thabarî 3/277–278)

Di bawah tekanan mereka, terpaksa Husain memutuskan untuk mengirim anak pamannya, Muslim bin Aqil, untuk mengetahui keadaan yang terjadi. Maka keluarlah Muslim pada bulan Syawal tahun 60H.

Tatkala penduduk Iraq mengetahui kedatangan Muslim bin Aqil maka mereka datang kepadanya. Mulailah mereka berbai’at kepada Husain. Disebutkan bahwa jumlah mereka yang berbai’at sebanyak dua belas ribu orang. Kemudian penduduk Kufah pun mengirim utusan untuk membai’at Husain dan semuanya berjalan dengan baik.

Akan tetapi, sayangnya, Husain radhiyallahu ’anhu tertipu oleh pengkhianatan mereka. Husain pergi menemui mereka walaupun sudah diperingatkan oleh para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan orang-orang yang terdekat dengan beliau agar tidak keluar menemui mereka; hal itu karena mereka telah mengetahui pengkhianatan yang selama ini telah dilakukan oleh kaum Syi’ah Iraq. Sampai-sampai Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuberkata kepada Husain, “Apakah engkau akan pergi ke kaum (golongan) yang telah membunuh pemimpin mereka, merampas negeri mereka, dan memusnahkan musuh mereka, jika mereka telah melakukan hal itu maka pergilah kepada mereka. Akan tetapi, jika mereka mengajakmu ke sana, sedang penguasa mereka berkuasa terhadap mereka, dan para pegawainya menguasai negeri mereka, maka mereka hanya mengajak Anda menuju medan perang dan peperangan, dan saya tidak merasa aman (kalau-kalau) mereka akan mengkhianati, menipu, membangkang, meninggalkan, dan berbalik memerangi kamu sehingga mereka menjadi orang yang paling keras permusuhannya kepadamu.” (al-Kâmil fit Târîkh 4/37)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Tatkala Husain radhiyallahu ‘anhu hendak keluar kepada penduduk Iraq tatkala mereka mereka mengirim surat yang banyak kepadanya, maka para pemuka ahli ilmu dan agama seperti Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Abu Bakar bin Abdurrahman bin Harits bin Hisyam mengisyaratkan kepadanya agar tidak keluar.” (Majmû’ Fatâwâ 4/316)

Dengan jelas tampaklah pengkhianatan Syi’ah ahli Kufah, walaupun mereka sendiri yang telah mengharapkan akan kedatangan Husain. Hal itu sebelum Husain sampai kepada mereka. Maka penguasa Bani Umayyah, Ubaidillah bin Ziyad, ketika mengetahui sepak terjang Muslim bin Aqil yang telah membai’at Husain dan sekarang berada di Kufah, ia segera mendatangi Muslim dan langsung membunuhnya, sekaligus terbunuh pula tuan rumah yang menjamunya, Hani bin Urwah al-Muradi. Dan kaum Syi’ah Kufah tidak memberikan bantuan apa-apa, bahkan mereka mengingkari janji mereka terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu, hal itu mereka lakukan karena Ubaidillah bin Ziyad memberikan sejumlah uang kepada mereka.

Ketika Husain radhiyallahu ’anhu keluar bersama keluarga dan beberapa orang pengikutnya yang berjumlah sekitar 70 orang laki-laki dan langkah itu ditempuh setelah adanya perjanjian-perjanjian dan kesepakatan, kemudian masuklah Ibnu Ziyad untuk menghancurkannya di medan peperangan, maka terbunuhlah al-Husain radhiyallahu ‘anhu dan terbunuh pula semua sahabatnya, termasuk tiga saudara Husain sendiri: Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib, Umar bin Ali bin Abi Thalib, dan Utsman bin Ali bin Abi Thalib, ketiga anak Ali bin Abi Thalib selain Hasan, Husain, dan Muhammad bin Hanafiyyah.
.
Bahkan do’anya atas mereka (syi’ah) sangat terkenal, beliau mengatakan sebelum wafatnya, “Ya Allah, apabila engkau memberikan mereka kenikmatan, maka cerai-beraikanlah mereka, jadikanlah mereka menempuh jalan yang berbeda-beda, dan janganlah restui pemimpin mereka selamanya, karena mereka telah mengundang kami untuk menolong kami, namun ternyata kemudian memusuhi kami dan membunuh kami.” (al-Irsyâd hlm. 241 dan I’lâm al-Wara li ath Thibrisî hlm. 949)

Dikutip dari: Pengkhianatan Syiah Sepanjang Sejarah, Ustadz Arif Fathul Ulum Hafizhahullah

Dipublikasikan kembali oleh: www.kisahislam.net

Fanspage: Kisah Teladan & Sejarah Islam

=

Share:

Leave a reply