Kisah Syiah Rafidhah

Pengkhianatan Syiah Kepada Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu

01Sebagian besar syi’ah (pendukung) Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah penduduk Iraq, terutama penduduk Kufah dan Bashrah. Ketika Ali berkeinginan untuk pergi berperang bersama mereka ke Syam, setelah berhasil meredam fitnah kaum khawarij (salah satu sekte pecahan syi’ah Ali sendiri yang malah mengkafirkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu), mereka malah meninggalkan beliau radhiyallahu ‘anhu. Padahal sebelumnya mereka telah berjanji untuk membantunya dan pergi bersamanya, tetapi dalam kenyataannya mereka semua membiarkannya dan mereka mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, anak panah kami telah musnah, pedang-pedang dan tombak-tombak kami telah tumpul, maka kembalilah bersama kami, sehingga kami menyediakan peralatan yang lebih baik.”

Kemudian Ali mengetahui bahwa semangat merekalah yang sesungguhnya sudah tumpul dan melemah, bukan pedang-pedang mereka. Mulailah mereka pergi secara diam-diam dari tempat tentara Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan kembali ke rumah mereka tanpa sepengetahuan beliau, sehingga kamp-kamp militer tersebut menjadi kosong dan sepi. Ketika beliau melihat hal tersebut, beliau kembali ke Kufah dan mengurungkan niatnya untuk pergi. (Lihat Târikh ath-Thabarî: Târîkh al-Umam wal Mulûk 5/89–90 dan al-Kamil fit Tarikh oleh Ibnul Atsir 3/349)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengetahui bahwa perkara apa pun tidak dapat mereka menangkan walaupun mereka telah berbuat adil dan beliau adalah seorang yang adil sekalipun kepada para pendukung beliau, beliau tidak dapat menyembunyikan kekesalannya dan persaksiannya terhadap para penipu ini kemudian berkata kepada mereka, “Kalian hanyalah pemberani-pemberani dalam kelemahan, serigala-serigala penipu ketika diajak bertempur, dan aku tidak percaya kepada kalian … kalian bukanlah kendaraan yang pantas ditunggangi dan bukan pula orang mulia yang layak dituju.

Demi Allah, sejelek-jelek provokator perang adalah kalian. Kalianlah yang akan tertipu dan tidak akan dapat merencanakan tipu daya jahat, kebaikan kalian akan lenyap, dan kalian tidak dapat menghindar.” (Târîkh ath-Thabarî 5/90 dan al-’Âlam al-Islâmi fil ’Ashri al-Umawî hlm. 91)

Yang anehnya lagi, para pendukung (syi’ah) Ali di Iraq ini tidak hanya mundur dari medan perang ke Syam bersama beliau, tetapi mereka juga takut dan keberatan untuk mempertahankan wilayah mereka sendiri, sementara pasukan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu telah menyerang Ain at-Tamr dan daerah-daerah Iraq yang lain. Mereka tidak tunduk kepada perintah Ali radhiyallahu ‘anhu untuk mempertahankannya, sampai-sampai Amirul Mukminin Ali berkata kepada mereka, “Wahai penduduk Kufah, setiap kali kalian mendengar kedatangan pasukan dari Syam, maka setiap orang dari kalian masuk ke dalam kamar rumahnya dan menutup pintunya seperti masuknya biawak ke persembunyiannya dan hyena ke dalam sarangnya … Orang yang tertipu adalah orang yang kalian bodohi, dan bagi yang menang bersama kalian, adalah menang dengan bagian yang nihil. Tidak ada orang-orang yang berangkat ketika dipanggil, dan tidak ada saudara-saudara yang dapat dipercaya ketika dibutuhkan. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali.” (Târîkh ath-Thabarî 5/135 dan al-’Âlam al-Islâmi fil ’Ashri al-Umawî hlm. 96)

Dikutip dari: Pengkhianatan Syiah Sepanjang Sejarah, Ustadz Arif Fathul Ulum Hafizhahullah

Dipublikasikan kembali oleh: www.kisahislam.net

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

=

Share:

Leave a reply