Kisah Kematian

Mengantar Jenazah Imam Thawus bin Kaisan Rahimahullah

Kafilah-kafilah Haji berdatangan dari berbagai penjuru. Mereka datang untuk memenuhi panggilan Rabbnya,

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan Haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki,dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (Al-Hajj: 27)

Itulah rombongan manusia yang datang menuju Baitullah, karena mencintai tempat-tempat yang suci itu dan rindu pada Ka’bah.

Di tengah rombongan manusia itu terdapat seorang imam dalam ilmu dan keshalihan, imam yang diteladani dalam kebajikan dan ibadah, Thawus bin Kaisan.

Dia datang bersama para jamaah tersebut untuk menambah keshalihan, dan untuk mendapat keberuntungan berada di tempat-tempat yang ramai lagi makmur tersebut.

Dia tidak tahu bahwa saat perpisahan telah dekat, dan waktu kematian sudah di ambang pintu.

Pada setiap musim Haji, Thawus datang ke tempat-tempat yang suci itu … dan para jamaah tersebut menjadi saksi bagi
imam ini bahwa dia telah berhaji sebanyak empat puluh kali.

Empat puluh tahun Imam ini menuju Ka’bah yang suci! Ya Allah, betapa luhur kemauannya dan betapa tinggi tekadnya!

Setelah Thawus sampai di Makkah, dia jatuh sakit yang menyebabkan kamatiannya. Rasa sakit itu dimulai sejak di Mina, sebagai tanda saat perpisahan. Dan rasa sakit itu berakhir pada puncaknya,

“Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 26-27)

Pada saat sakit, dia tidak pernah meninggalkan shalat dengan berdiri. Orang yang pernah melihatnya menuturkan bahwa dia shalat di atas tempat tidurnya dalam keadaan berdiri dan sujud di atasnya.[1] Betapa mulia orang yang memiliki kemuliaan! Ia tidak mau mengambil dari semua amalan kecuali yang paling tinggi tingkatannya.

Sehari sebelum hari Tarwiyah[2], di tempat-tempat yang suci itu, teladan para jamaah, Thawus bin Kaisan, menghembuskan nafas terakhirnya.

Ya Allah! Betapa beratnya berita itu bagi mereka! Musibah besar. Berita yang sangat menyedihkan hati.

Kerinduan mereka semakin menjadi-jadi, untuk bisa melihat pemandangan yang mempesona, yang menyertai mereka di tempat-tempat syiar haji yang suci… sehingga haji mereka semakin bertambah mempesona.

Tetapi ketentuan Allah mengatasi segala ketentuan, dan kehendakNya mengatasi segala kehendak.

Air mata pun bercucuran dan kesedihan merata di mana-mana. Semuanya mendoakan agar sang Imam yang shalih ini dirahmati oleh Allah. Semua lisan menyanjungnya, “Semoga Allah merahmati Abu Abdirrahman yang telah berhaji empat puluh kali. “[3]

Itulah api kesedihan yang berkobar di tengah kumpulan manusia yang berjumlah sangat besar. Mereka menjadi saksi (pada saat mengantarkan jenazah). Semuanya ingin mencapai keranda yang di atasnya dipikul sang Imam yang tiada duanya ini.

Semuanya mencintai imam yang shalih ini. Semuanya mengantarkan jenazah imam ini dengan kesedihan yang meremukkan hati mereka.

Di tengah kumpulan manusia pada hari itu terdapat Amirul Mu’minin Hisyam bin Abdil Malik al-Umawi, yang menjadi imam mereka untuk menshalatkan jenazah Imam ini.

Ketika waktu shalat jenazah hampir tiba, kepadatan manusia semakin menjadi-jadi. Bumi tersebut penuh sesak dengan jamaah yang melimpah ruah … dan semuanya ingin dekat dengan jenazah. Akibatnya, orang-orang tidak dapat mengeluarkan jenazah karena sangat penuh sesak, sehingga Amirul Mu’minin Hisyam bin Abdul Malik memerintahkan untuk mengerahkan pasukan pengawal[4] agar mereka dapat melaksanakan shalat jenazah.

Lalu gubernur Makkah, Ibrahim bin Hisyam al-Mahzumi, mengerahkan pasukan pengawal sehingga orang-orang dapat mengeluarkan jenazah.[5]

Kemudian jenazah diletakkan di antara Rukun al-Aswad dan Maqam (Ibrahim), lalu Amirul Mu’minin Hisyam bin Abdul Malik maju untuk menshalatkannya.[6]

Setelah melaksanakan shalat jenazah, para jamaah berhamburan untuk mengusung keranda sang Imam dalam ilmu dan amal. Di tengah mereka terdapat sayyid yang mulia dan tokoh yang mulia nasabnya, sayyid Bani Hasyim pada zamannya, Abdullah bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib rahimahullah.

Sayyid ini adalah salah seorang yang sangat berkeinginan untuk mengusung keranda sang Imam. Dia mendahului mereka lalu memikul keranda tersebut bersama orang-orang yang berdesak-desakan untuk memikul jenazah tersebut. Dia memikulnya di atas pundaknya, dan sayyid ini enggan untuk meninggalkan posisinya. Dia tidak mau melepaskan keranda itu. Mereka mendesaknya, dan semuanya ingin memikul keranda itu, tetapi Sayyid Bani Hasyim ini memegang keranda tersebut dengan kuat. Hingga tak ada seorang pun yang mampu melepasnya.

Orang-orang semakin berdesak-desakan, sementara Abdullah bin al-Hasan memegang keranda itu di atas pundaknya. Ketika pecinya jatuh, dia tidak menghiraukannya. Ketika selendangnya dicabik-cabik dari belakang, dia tetap tidak menghiraukannya.[7]

Demikianlah keranda jenazah digilir dan menjadi rebutan di tengah kerumunan orang yang melimpah … dan Abdullah bin al-Hasan tetap di tempatnya tanpa bergeming hingga sampai di pekuburan.

Betapa mempesona engkau, wahai Ibnu Kaisan! Orang mulia dipikul oleh orang mulia. Kemuliaan ilmu dipikul oleh orang yang diusung di atas keranda. Kemuliaan nasab dan kemuliaan-kemuliaan lainnya yang dibawa oleh orang yang berada di atas keranda tersebut.

Alangkah menakjubkan! Adakah kemuliaan yang tersisa di antara keduanya?!

Sungguh! Jika ilmu diramu dengan amalan, niscaya menghasilkan kemuliaan-kemuliaan dan keutamaan yang mencengangkan… bagaikan permata menghiasi dunia yang butir-butirnya adalah orang-orang agung tersebut, semisal Thawus bin Kaisan.

Kemuliaan-kemuliaan itu

Bukan segelas susu yang dicampur dengan air

Lantas setelah itu, ia berubah menjadi air kencing

Thawus meninggal -semoga Allah merahmatinya- pada tahun 106 H, dalam usia 70 tahun.[8]

Imam ini telah berpaling dari dunia, menolak segala kesenangannya, menjauhi perhiasannya…, maka digantikan untuknya kemuliaan yang tidak akan pernah hilang yaitu nama yang harum dan dicintai manusia. Barangsiapa mendapatkan hal itu, maka apalah artinya dunia dibandingkan hal itu. Dan adakah di dunia sesuatu yang lebih berharga daripada itu?

Hari kematiannya menjadi bukti yang membenarkan ungkapan ini, “Katakanlah kepada ahli bid’ah bahwa yang membedakan antara kami dengan kalian adalah pada saat kematian nanti.”

Semoga Allah meridhai Thawus, dan menempatkannya di Surga Firdaus.

Foot Note:

[1] Thabaqat lbnu Sa’d, (6/ 70).

[2] Tsiqat, (2/ 244).

[3] Hilyah al-Auliya’, (4/ 3).

[4] Siyar A’lam an-Nubala’, (5/ 45).

[5] Wafayat al-A yan, (21 509).

[6] Tsiqat, 2/ 244.

[7] Lihat Hilyah al-Auliya’ (4/3) Wafayat al-A’yan (2/ 509) Tandzib al-Kamal (3/ 499), al-Bidayah wa an-Nihayah, (9/ 276) Siyar A’lam an-Nubala’, (5/45) Syadzarat adz-Dzahab, (2/ 41).

[8] Tahdzib al Kamal (3/499)

Sumber:  Lihat Saat Ajal Menjemput Mereka, Azhari Ahmad Mahmud, Penerbit Darul Haq

Artikel : www.KisahIslam.net

Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam

=

Share:

Leave a reply