Uncategorized

Khalifah Abu Bakar ash Shiddiq [Bag.02]

Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu Dipanggil Dari Delapan Pintu Surga

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengarRasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

‘Barangsiapa menginfakkan sepasang harta dari segala sesuatu di jalan Allah, dia dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan.’ Barangsiapa termasuk orang-orang yang mendirikan shalat, dia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa termasuk orang-orang yang berjihad, dia dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa termasuk orang-orang yang bersedekah, dia dipanggil dari pintu sedekah. Barangsiapa termasuk orang-orang yang berpuasa, dia dipanggil dari pintu puasa, yaitu pintu Ar Rayyan.’

Maka Abu Bakar berkata, ‘Seseorang dipanggil dari satu pintu dari pintu-pintu tersebut tidaklah masalah (sebab satu pintu aja sudah merupakan kenikmatan), akan tetapi adakah orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut, wahai Rasulullah? Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, Ya, dan aku berharap engkaulah seorang diantara mereka, wahai Abu Bakar.’[1]

Dalam riwayat Ibnu Hibban dari Hadits Ibnu Abbas, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Ada, dan engkaulah orang itu wahai Abu Bakar.”

Ibnul Qoyyim berkata tentang pintu-pintu surga dalam bait-bait Nuuniyahnya

Maka seseorang akan dipanggil dari pintu-pintunya

Seluruhnya jika dia memenuhi tuntutan-tuntutan iman

Di antara mereka adalah Abu Bakar ash Shiddiq

Dialah Khalifah Nabi yang diutus dengan Al Qur’an

Ash Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu Dan Kecintaannya Yang Mendalam Kepada Al Habib Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Sungguh, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu telah menyintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan kecintaaan yang meresap ke dalam oraknya, hatinya, dan anggota badannya, sampai-sampai dia berharap bisa mengorbankan dirinya, anaknya, hartanya dan seluruh manusia demi beliau.

‘Aisyah radhiyallahu ‘Anha berkata, “Ketika Sahabat-Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkumpul, pada saat itu jumlah mereka adalah 38 orang. Abu Bakar bersikeras mengusulkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar menampakkan diri dan tidak bersembunyi, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

‘Wahai Abu Bakar! Jumlah kita masih sedikit.’

Abu Bakar terus mengusulkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, agar tidak bersembunyi sampai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabulkan usulnya. Kaum muslimin berpencar di masjid, masing-masing bersama keluarga besarnya. Lalu Abu Bakar berdiri berkhutbah di hadapan orang-orang yang hadir, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri duduk. Abu Bakar menjadi khatib pertama yang menyeru kepada Allah dan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Maka Kaum Musyrikin menyerbu Abu Bakar dan kaum muslimin, mereka dipukuli disudut-sudut masjid dengan keras, Abu Bakar sendiri diinjak-injak dan dipukuli dengan hebat. ‘Utbah bin Rabi’ah, orang fasik ini, mendekat kepada Abu Bakar lalu memukuli Abu Bakar dengan sepasang sendal yang bersusun dua (maksudnya semacam sendal kulit sekarang yang mempunyai bagian atas yaitu kulit dan bagian bawah yang disol dengan karet). Dia memukul di atas perut Abu Bakar sehingga hidung Abu Bakar tidak bisa dibedakan dengan wajahnya. Mereka mengusir orang-orang Quraisy dari Abu Bakar, Bani Taim membawa Abu Bakar dalam selembar kain dan memasukkannya kepada rumahnya. Mereka tidak ragu lagi Abu Bakar sudah mati. Kemudian Bani Taim kembali ke masjid. Mereka berkata, ‘Demi Allah, kalau sampai Abu Bakar mati maka kami akan membunuh Utbah bin Rabi’ah. Setelah itu mereka menjenguk Abu Bakar. Abu Quhafah dan Bani Taim berupaya mengajak Abu Bakar berbicara sampai dia menjawab. Di sore hari Abu Bakar berbicara. Dia berkata, ‘Bagaimana keadaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?’ Maka Bani Taim mencela dan mencibir Abu Bakar, kemudian mereka berdiri dan berkata kepada ibunya, Ummul Khair, ‘Cobalah memberinya makan atau minum sesuatu.’

Kemudian Ummul Khair hanya berdua dengan Abu Bakar, dia mencoba memberikan sesuatu kepada, namun Abu Bakar selalu menjawab, ‘Bagaimana keadaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Maka Ummul Khair menjawab, ‘Aku tidak mengetahui keadaan kawanmu. Abu Bakar berkata, ‘Pergilah kepada Ummu Jamil binti Al Khaththab, bertanyalah kepadanya tentangnya.’ Maka Ummu Khair berangkat menemui Ummu Jamil. Ummul Khair berkata, ‘Sesungguhnya Abu Bakar bertanya kepadamu tentang Muhammad bin Abdillah.’ Ummu Jamil menjawab, ‘Aku tidak kenal Abu Bakar dan tidak pula Muhammad bin Abdillah, tetapi jika engkau ingin aku menemui anakmu, aku bersedia.’ Ummul Khair menjawab, ‘Ya.’ Maka Ummu Jamil berangkat bersamanya. Dia mendapati Abu Bakar dalam keadaan sekarat lagi parah. Ummul Jamil mendekat dan dia berkata dengan suara tinggi, ‘Demi Allah, kaum yang melakukan ini kepadamu adalah kaum fasik lagi kafir. Aku berdoa semoga Allah membalas mereka untukmu.’

Abu Bakar bertanya, ‘Bagaimana keadaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?. Ummu Jamil menjawab, ‘Ada ibumu, dia mendengar pembicaraan kita.’ Abu Bakar berkata, ‘Jangan khawatir kepadanya.’ Ummu Jamil berkata, ‘Beliau selamat, keadaan baik-baik saja.’ Abu Bakar berkata, ‘Dimana?’ Ummu Jamil menjawab, ‘Dirumah Ibnul Arqam.’

Abu Bakar berkata, ‘Demi Allah, aku bersumpah tidak makan atau minum apapun sebelum aku bertemu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.’ Maka Ummul Khair dan Ummu Jamil meminta Abu Bakar agar bersabar sesaat sampai keadaan dan orang-orang kembali tenang. Pada saat itu keduanya memapah Abu Bakar hingga keduanya membawanya masuk kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun menyambutnya dan menciumnya, kaum muslimin juga menyambutnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat terharu melihat keadaannya, maka Abu Bakar berkata, ‘Aku korbankan ayah dan ibuku, wahai Rasulullah. Aku tidak mengapa, hanya apa yang dilakukan oleh fasik itu terhadap wajahku. Ini adalah ibuku. Dia adalah wanita yang baik kepada anaknya, sedangkan engkau adalah laki-laki penuh kebaikan, maka ajaklah dia kepada Allah, berdo’alah untuknya semoga Allah menyelamatkannya dari Neraka melalui dirimu.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa untuknya dan mengajaknya kepada Allah maka dia masuk Islam.”[2]

Sebuah Sikap Yang Tidak Mampu Dijelaskan Dengan Kata-Kata

Ini adalah lembaran yang bersinar dari kehidupan ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang telah memberikan harta dan jiwanya demi membela Allah dan membela Rasul-Nya.

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sungguh aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikerumuni oleh orang-orang Quraisy. Sebagian memdorong beliau. Mereka berkata, Engkaulah orang yang menjadikan tuhan-tuhan yang banyak menjadi satu tuhan saja.’” Ali berkata, “Demi Allah, tidak seorang pun dari kami yang berani mendekat selain Abu Bakar. Dia mendorong sebagian dari mereka, menyingkirkan sebagian dari mereka dan memukul sebagian lagi. Dia berkata, ‘Celaka kalian! Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, ‘Rabbku adalah Allah?’” (QS.Ghaafir:28).’” Kemudian Ali mengangkat jubah yang dipakainya. Dia menangis sampai jenggotnya basah, kemudian berkata, “Aku bertanya kepada kalian dengan nama Allah, apakah seorang laki-laki beriman dari keluarga Fir’aun lebih baik ataukah Abu Bakar yang lebih baik?” Mereka terdiam, maka Ali berkata, “Mengapa kalian tidak menjawabku? Demi Allah, satu saat dari Abu Bakar adalah lebih baik daripada seribu saat dari seorang laki-laki beriman dari keluarga Fir’aun. Laki-laki menyembunyikan imannya, sedangkan Abu Bakar mengumumkan imannya.”[3]

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Pada saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di halaman Ka’bah, Uqbah bin Abi Mu’aith datang lalu mencengkram pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mencekik beliau dengan kuat. Maka datanglah Abu Bakar, dia mencengkram pundak Uqbah dan menyingkirkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia berkata:

“…Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, ‘Rabb-ku adalah Allah,’ Padahal sungguh dia telah datang kepadamu dengan bukti-bukti yang nyata dari Rabb kalian?…(QS.Ghaafir:28).’” [4]

Foot Note:

[1] HR.Bukhari no.3666 dan Muslim no.1027

[2] Al Bidayah wan Nihayah III/29-30, rawi-rawi sanadnya tsiqat. Al Haitsami dalam Al Majma’ IX/46-47 berkata, “Diriwayatkan oleh Al Bazzar. Rawi-rawinya adalah rawi-rawi ash-Shahiih selain Isma’il bin Abi Al Harits, dia perawi yang tsiqah.

[3] Tariikh Al Khulafaa’ hal.37

[4] HR.Bukhari dalam kitab Maaqibul Ansaar no.3856

Sumber: Disalin dari Buku ‘Shahabat-Shahabat Rasulullah, Syaikh Mahmud Al Mishri, Jilid 1. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir

Artikel: www.KisahIslam.net

Share: